10 Makanan Halal Di Korea: Dari yang Termahal Hingga Termurah

Standard

Aku hampir ngeces melihat potongan-potongan rice cake dengan saus kemerahan yang kental diaduk-aduk bersama sosis mini. Asap mengepul menghantarkan wangi yang sedap di hidung. Hmm… pasti rasanya pedes-pedes hangat gitu. Menggoda banget.

What is it?” Aku menunjuk-nunjuk ke arah potongan sosis.

Pork”. 

Yaah… buyar sudah selera makan. Sambil bersyukur masih sempat nanya dulu sebelum buru-buru beli. Akhirnya aku melipir dari salah satu stand jajanan di Myeongdong itu.

Memang selama di Korea, harus hati-hati banget masalah makanan. Karena meski bentuknya sepertinya nggak mencurigakan, isinya belum tentu halal. Misalnya aja jajanan tadi yang lebih dikenal dengan toppoki. Ternyata di sini toppoki-nya diduetin sama ūüź∑. Biasanya dumpling juga sama kasusnya.

Toppoki Dumpling pork

Don’t judge the food by its look

Tapi tenang aja. Meski nggak banyak, makanan halal tetap ada kok di Korea. Halal yang aku maksud di sini kategorinya ada yang punya sertifikat, ada yang ditulis sendiri sama pemiliknya dan begitu dicek isinya aman, ada juga yang setelah ditanya bahan-bahannya aman dan tidak dijual bersama yang tidak halal.

Ini dia hasil temuanku. 10 makanan halal di Korea dari yang termahal sampai

Read the rest of this entry

Advertisements

Keliling Korea Tanpa Google Maps

Standard

Tahukah kamu, di Korea Google Maps tidak bisa berfungsi?

APA???!!!

Itu reaksi pertamaku saat mendengar kalau sahabat anti nyasar jaman now nggak bisa dipake di Korea.

Padahal udah pede banget mengikrarkan jalan-jalan tanpa tour guide. Itinerary udah dirancang sedemikian rupa. Lalu GLEK! 

Emang Korea nggak terdeteksi di Google Map? 

Read the rest of this entry

Jatuh Dan Cinta Di Namsan Tower

Standard

Banyak yang datang ke sini untuk sebuah gembok. Menuliskan namanya dan nama seseorang di gembok lalu dikaitkan di antara ribuan gembok yang tergantung di lock of love. Lalu klik, dikunci. Sambil berharap cinta dia dan orang yang dituliskan namanya bisa langgeng abadi tak terlepaskan.

Padlock of Love

Padlock of Love

Gemboknya lucu-lucu, cantik. Tapi nggak gratis. Kamu tahu berapa harganya?

Sebelum membahas harga gembok, aku mau kasih tahu tempat yang ku maksud adalah Namsan Tower atau N Seoul Tower. Destinasi paling hits kalau main ke Korea. Apalagi buat pecinta drama korea yang masih belum bisa move on dari Gu Jun Pyo-nya Boys Before Flowers atau Do Min Jo-nya My Love from The Star. Dua Oppa yang pernah punya memorable scene di tempat ini.

Untuk bisa ke tempat ini ada beberapa cara. Bisa via Read the rest of this entry

Hanbok & Gyeongbokgung Korea

Standard

4 jam saja!

Tidak seperti kisah Cinderella, di Korea ibu peri yang ku panggil ahjumma bukan menyuruhku pulang sebelum jam 12 malam. Tapi dia memberiku waktu selama 4 jam untuk jadi seorang putri.

Kamu mau jadi putri selama 4 jam? Sini, aku kasih tahu caranya di sini :).

Cinderella Korea

Read the rest of this entry

Dikunciin Di Singapura

Standard

Siapa sangka, segenggam keberanian untuk solo traveling ke negeri orang membawaku berdiri terkuras lelah di depan sebuah pintu besi.

Entah sudah berapa lama aku terkunci di sini. Aku sudah terlalu lelah untuk menghitung waktu. Suaraku pun sudah payah. Tak sanggup meminta tolong di tengah sunyi senyap suasana. Meski sesekali kudengar sayup-sayup suara kendaraan yang lewat. Apakah mereka tahu aku di sini? Adakah dari mereka yang akan jadi penolongku? Kapan aku bisa terbebas dari sini?

Help!!!

Read the rest of this entry

9 Destinasi Patah Hati

Standard

Berdasarkan hasil observasi ke banyak orang, patah hati itu cenderung menguatkan jiwa sporty pada diri seseorang. Bawaannya pengen lariiii terus (dari kenyataan). Pertanyaannya mau lari kemana?

Gunung? Laut? Luar kota? Luar negeri? Luar angkasa?

Tempat-tempat berikut ini mungkin bisa jadi referensi untuk “olahraga” hati. Baca sampai habis ya, soalnya ada hadiahnya ;).

Destinasi Patah Hati

Destinasi Patah Hati

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final

Standard

Dua wanita itu menatapku dengan heran tepat setelah aku melontarkan sebuah jawaban. Melihat penampilan mereka yang elegan, dengan baju yang pastinya branded, dan kursi jabatan yang mereka duduki saat itu, mereka bukan orang sembarangan. Pasti orang cerdas. Dan tatapan heran itu pasti sangat beralasan.

“Masa kecil mereka itu susah. Kenapa kamu iri sama mereka?” Tanya seorang dari mereka- yang berambut pendek. Aku duga jabatannya lebih tinggi dari wanita yang satunya.

Aku menarik nafas sejenak sambil tetap pada posisiku. Duduk tegap di hadapan mereka dengan tatapan yang tak sekalipun kabur meski sudah dihujam banyak pertanyaan. Di detik itu juga aku mengulas senyum yang diikuti dengan jawaban.

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar (Part 2)

Standard

Hampir pukul 10 waktu setempat.  Aku merogoh sisa uang Singapore dollar di saku. Cuma cukup buat beli teh. Ditambah uang dari saku Cun. Ya, cukuplah buat 2 gelas atau 1 porsi nasi lemak. Perut kami langsung rusuh. Mereka mengajukan protes.

Udah, gesek aja. Bayar bulan depan. Bisik-bisik hedonis menyeruak di kepala.

Tidak! Tidak! Aku dan Cun sudah sepakat tidak akan menggesek kartu terbitan bank di dompet. Bukannya sok hemat apalagi pelit sama diri sendiri. Cuma nggak mau lebih menodai rencana awal kami untuk travel hemat. Sambil miris mikirin utang di kartu kredit yang cukup menguras gaji bulan depan.

Satnight @ Changi Airport

Satnight @ Changi Airport

Tenang aja, belly. Malam ini in shaa Allah bisa makan enak dan kenyang. Aku tersenyum tenang sambil mengibas-ngibas tiket eTRS (electronicTourist Refund Scheme) di tangan.

Jadi, di Singapura itu, kalau turis belanja barang untuk kebutuhan pribadi (bukan untuk dijual lagi), di toko-toko tertentu minimal $100, bisa dapat pengembalian pajak. Tax free. So, biaya pajak yang termasuk dalam harga barang bisa dikembalikan. Yeaay… Berkah belanja #eeh :p.

Aku dan Cun pun mencari konter eTRS untuk mengambil pengembalian pajak. Lumayan dapat 11 SGD. Cukuplah untuk makan enak malam ini. Lokasinya tak jauh dari loket imigrasi. Berhubung sudah malam, jadi antrian sudah sepi. Kami melenggang cepat ke hadapan petugas dan menunjukkan tiket eTRS tersebut.

Hand-carry goods?” Tanya petugas berwajah India.

“Yes, Sir.”

Oh, please refund in the departure lounge.

“Ya??? Aku denger sih apa kata petugas itu. Cuma shock dan nggak mau percaya aja.

Setelah petugas itu menjelaskan lebih lanjut, aku dan Cun lunglai. Ternyata kalau barangnya nggak masuk bagasi alias hand-carry, ditukernya nanti di dalam departure lounge. Itu, tuh, tempat yang sebelumnya aku idamkan untuk menghabiskan malam ini. Yang fasilitasnya bikin gemes. Yang baru bisa dimasukin abis check-in. (-.-“)

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar

Standard

The gate has closed.

Aku ketinggalan pesawat. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan ingin roboh.

Ini pasti gara-gara keasyikan muter-muter di Ion Orchard. Pake kelamaan pilih jam tangan. Padahal harus balik hostel dulu ambil barang. Ribet ini itu di hostel. Udah mepet tetep nggak mau naik taksi. Biar hemat. Ternyata MRT-nya *&%$#$%%*!$**#@#

Cukup! Cukup! Nggak ada habisnya mengekor penyebab dari semua ini. Aku sedih, kesal, bingung. Tapi berbunga-bunga.

“Nggak bisa di-reschedule, Cin?” Cun, travelmate-ku bertanya.

*Jangan heran kenapa ada Cin dan Cun. Itu panggilan kesayangan. Cin itu panggilanku. Sebenarnya ada satu lagi, Can, tapi kali ini dia absen ikut traveling*

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

“Nggak bisa, harus pesen baru, Cun.” Aku mengelap keringat yang bercucuran di dahi.

Aku dan Cun meluruskan kaki sambil bersandar di salah satu spot terminal 1. Kami kelelahan karena berlari dari MRT station ke counter check in. Lalu kaki kami yang sudah diajak muter-muter Singapura selama 3 hari ini masih belum bisa istirahat. Harus mondar mandir ke terminal 1 dan 2 untuk mengecek penerbangan dari berbagai counter airline.¬†Sambil menggerek koper dan perut lapar.¬†Fyuhh…

“Kalau flight malam ini paling murah 1.5 juta.” Kataku merangkum hasil perbandingan harga.

“Mahal banget. Kemarin kita beli pesawat PP berapa?”

“Lima ratus ribu.” Jawabku.

“Nggak ada yang murah lagi? Biasanya kan ada yang suka promo.”

“Nggak ada Cun. Kalau promo biasanya buat jauh-jauh hari dan via online. Penerbangan terakhir kurang dari 2 jam lagi. Jadi harus beli di counter.”

Ottuke*? Malam semakin larut. Beberapa counter airline sudah tutup. Kami harus segera mengambil keputusan. Mau pulang naik apa.

Read the rest of this entry

Nobita Dan Sebuah Nostalgia

Standard

Nobita-san, you remind me of someone.

Melihatmu di film Doraemon: Stand By Me membuatku senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat pada seseorang. Sama sepertimu, dia benar-benar pemalas. Tidak punya motovasi belajar. Yang ada di pikirannya cuma main saja.

You remind me about someone

You remind me of someone

 

Wajah sih tak mirip. Tak pakai kacamata juga meski hobinya main PS. Nilai-nilainya sedikit lebih baik darimu. Pas-pasan lah. Dia pernah 2 kali masuk 10 besar. Meski menurutnya itu hanya sebuah keberuntungan.  Dia juga pernah iri denganmu yang punya doraemon. Tadinya. Tapi kini dia bersyukur. Karena dia, punya keajaiban lain melebihi Doraemon.

Read the rest of this entry