Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.

Sabaar… Nasehatku pada diriku. Pertemuan ini sudah kunantikan. Namun aku urung menghampirinya sekarang. Aku pilih untuk duduk tak jauh darinya. Berharap dia ditinggal sendiri sehingga aku bisa menemuinya.

10 menit aku menunggu, akhirnya gadis yang bersamanya tadi pun pergi. Tak berpikir panjang, aku langsung menghampirinya. Dengan membawa senyum berhias gemercik bahagia di dada, aku duduk di tempat yang telah dia sediakan. Dan tak lama, dia pun mulai memijat kakiku.

Aah… nyaman sekali.

Aku dan Osim

Aku dan Osim

Tak ada yang lebih kurindukan dari Changi Airport selain Osim, alat pijat kaki gratis yang bisa ditemukan di dalam lounge area.

Tombol pengatur pijatan

Tombol pengatur pijatan

Sebenarnya alat pijit ini tak jauh beda dengan yang bisa ditemukan di mal-mal di Jakarta. Keistimewaannya hanya karena gratis dan adanya di Singapura. Jadi saat aku mencobanya, selain tidak harus bayar, hatiku pun merasa riang karena tahu aku sudah tiba di Singapura. Bersiap untuk melakukan perjalanan menyenangkan. Jauh dari Kepenatan Jakarta. Yes!

Kalau kalian ke Singapura, cobalah alat pijat ini di bandara Changi. Alat ini biasanya ditemukan di dekat travelator. Dijamin bikin betah. Bisa untuk pemanasan sebelum mulai berpetualang. Atau sebagai pelepas lelah sebelum lepas landas kembali ke tanah air.

Ada beberapa pilihan jenis pijat; Relax, Reflexology, Sleep, dan Toning. Pijatan juga bisa diatur manual mulai dari kekuatan pijat, getar, dan pengaturan kehangatan. Favoritku adalah Reflexology + heat. Cocok sekali kalau kaki sedang pegal-pegal. Untuk pemanasan, pilih saja Relax. Aku kapok pilih tipe Sleep karena meninggalkan rasa sakit di betis.

Selain Osim, banyak juga fasilitas kece di bandara Changi yang bisa memanjakan para penumpang. Di antaranya Wifi gratis, rest area, mobile charging, TV lounge, shower room, sampai powder room buat cewek-cewek yang mau nyaman berdandan. Bahkan katanya ada kolam renang di rooftop. Dengan semua fasilitas itu, rasanya nggak akan menunggu bosen boarding karena bisa eksplore fasilitas di sana. Tapi semua fasilitas ini cuma ditemukan di departure transit lounge, ya. So, kalau baru landing, jangan keluar imigrasi dulu kalau mau menikmatinya.

Fasilitas kece Changi Airport

Fasilitas kece Changi Airport

Fasilitas Kece Changi Airport

Fasilitas Kece Changi Airport

Sekian kicauan rinduku tentang Osim ^^

Advertisements

One response »

  1. Pingback: Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final | Kicau Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s