Kisah PHP Di Boardwalk

Standard

Sore itu aku menunggumu.

Dan seharusnya aku merasa bosan. Tapi sajian pemandangan di hadapanku menjadi hidangan yang lezat untuk mataku.

image

Sajian pemandangan Boardwalk

Bayangkan saja. Aku sedang menginjakkan kakiku di atas jembatan yang meliuk eksotis di antara Harbour Front dan Sentosa Island. Seperti berdiri di atas laut. Ditemani semilir angin hangat dan langit yang mulai sendu melepas kepergian sang surya.

image

Welcome to Sentosa Boardwalk

Aku sedang berada di Sentosa Boardwalk. Sebuah jembatan sepanjang 600 m yang berdiri kokoh di atas laut. Menjadi akses pilihan bagi pengunjung yang ingin menyebrang ke Sentosa Island dengan berjalan kaki.

Aku suka sekali suasana di sini. Duduk di undakan kayu sambil meluruskan kaki. Melepas lelah pada hamparan laut biru tak berombak. Dan menyaksikan beberapa kapal ferry berlalu lalang di sana.

Aah… bila menunggu jadi seindah ini, mungkin menunggu akan kehilangan predikat sebagai aktivitas paling membosankan. Tapi tentu akan lebih indah bila kau muncul menemani.

Hmm… Aku melirik pada jam tanganku. Sudah pukul 7 petang. Langit pun sudah semakin muram. Semuram hatiku yang cemas karena kau tak kunjung muncul.

Ayolaah… aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Lirihku dalam hati.

image

Menunggu Mr. PHP

Aku tunggu beberapa saat lagi berharap kau akan muncul. Hingga langit berganti gelap. Dan aku sadar hari ini pun kau tak muncul. Sama seperti kemarin.

Duhai sunset, tega sekali kau tak membiarkan kameraku mengabadikan jubah emasmu menyelimuti langit Singapura. Apakah kau begitu malu padaku hingga memilih bersembunyi di balik awan?

Hufttt!!!

Dengan penuh kecewa, aku pun beranjak dari duduk lalu berjalan di atas travelator menuju balkon atas. Lalu rasa kecewa itu pun berubah jadi kagum.

image

Subhanallah… cantik sekali pemandangan dari atas sini. Melihat laut malam berhias lampu-lampu dari kapal ferry. Tiupan angin pun terasa semakin kencang melambaikan kerudungku.

What a lovely saturday night.

Senang rasanya bisa menyaksikan pergantian siang jadi malam di tempat ini. Suguhan pemandangan malam ini membayar rasa kecewaku karena tidak melihat sunset. Terkadang Allah memang tak selalu memberikan apa yang kita harapkan. Namun Dia selalu menggantinya dengan yang lebih baik ^^

image

Advertisements

6 responses »

  1. Pingback: Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final | Kicau Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s