Kisah Klasik Pukul 4 Sore

Standard

“Sssst…” Aku berbisik padanya sambil menaruh telunjukku di depan bibir.

“Jangan bilang-bilang kalau aku nangis.” Pintaku padanya, sahabat baruku.

Aku sedang menceritakan rahasiaku padanya. Entah mengapa akhirnya aku memilih dia untuk mencurahkan perasaanku. Mungkin karena aku tak tahan menyimpannya sendiri. Dan aku pun tak mau yang lain tahu perasaanku. Cuma dia saja.

“Dulu aku nggak suka sekolah. Setiap bangun tidur, aku cuma tunggu jam 4 sore. Aku cuma mau main sama mereka.” Sambil menyeka air mataku, aku melanjutkan cerita. Dia masih setia mendengarkan tanpa berkomentar.

Waktu kecil dulu

Waktu kecil dulu

“Yeyeeeen… Main, yuk!!” Begitu suara sahut yang selalu ku dengar tiap pukul 4 sore di depan rumah.

Entah janjian atau apa, mereka; Lilis, Angga, Cahya, Ester, dan Muti, sudah kompak berkumpul. Dari wajah mereka yang seperti buah kesemek, aku bisa menebak mereka baru saja mandi. Lalu kami main bareng. Main Barbie, orang-orangan, lompat karet, atau cuma main benteng-bentengan.

Yang paling lucu adalah saat kami sedang bermain Barbie. Angga itu kan seorang anak laki-laki. Kebayang kan reaksinya pas diajak main Barbie seperti apa? Pasti dia berharapnya hari itu kami akan main lompat karet atau benteng-bentengan. Sudah pasti dia paling jago. Sayangnya kami lagi malas berkeringat. Dan karena dia minoritas, jadilah kami tetap main Barbie. Hihihi…

Tapi jangan bayangkan Angga ikut main Barbie juga. Nope! Meski usainya masih kecil, dia sudah menunjukkan sesejatiannya sebagai laki-laki. Dia cuma duduk di teras sambil menunggu kami selesai bermain. Mungkin sambil mengawasi adiknya, Lilis. Tapi dia nggak pernah protes atau minta kami buru-buru menyudahi permainan. Dia tetap duduk tenang, meski kadang suka tiba-tiba menghilang, lalu kembali lagi. Kakak yang baik.

Haaaah….

Aku tersenyum menyambut kenangan manis yang berputar dalam ingatanku. Kenangan masa kecilku pukul 4 sore. Entah ada magis apa yang tercipta di teras rumahku tiap jam itu. Tapi cuma bersama mereka aku merasa bisa jadi diri sendiri. Bisa jadi anak yang periang, bawel, dan tak sungkan. Berbeda sekali saat di sekolah, aku cenderung jadi anak yang pendiam dan tak bisa bercanda gurau dengan luwes bersama teman-teman sekolah.

“Lalu…” Aku menjeda ceritaku. Ada sekelumit rasa yang kembali menyerang. Membuyarkan percikan riang di hatiku.

“Lalu tiba-tiba sebuah kabar membuat jam 4 sore terasa berbeda. Tidak menyenangkan seperti kemarin.” Aku menundukkan wajah.

“Muti bilang dia mau pindah. Pindah ke daerah Jawa. Jauh dari sini.” Aku menghela napas panjang.

Ya, Muti pindah. Tak ada lagi Muti di pukul 4 sore kami. Muti yang selalu memamerkan deretan gigi rapinya tiap kali tertawa. Muti yang kadang bertengkar denganku lalu pulang sambil cemberut. Tapi esok harinya datang lagi sambil cengar-cengir.

Dan tak lama setelah kepindahan Muti, Cahya dan Ester pun menyusul. Kedua kakak-adik itu juga harus pindah rumah. Lebih jauh dari Muti. Sayangnya dulu telpon masih jadi barang yang mahal. Jadi kami tak bisa bertukar nomor telpon. Apalagi bertukar alamat. Mereka masih terlalu bocah untuk tahu alamat detail rumah baru yang bisa dikirimi surat.

Hening sesaat. Aku menatap sahabat baruku.

“Apa aku sedih?” Aku tersenyum getir menghadapi pertanyaan itu.

Daripada mengaku sedih, aku lebih memilih melambaikan tangan sambil tersenyum saat perpisahan.

“Sampai jumpa lagi…”

“Jangan lupain aku, ya…”

“Dadaaah…”

Hanya kata-kata itu yang aku ucapkan. Seolah perpisahan kami tak akan lama. Seolah besok kami akan bertemu lagi. Padahal hatiku berkata lain. Aku terus menatap mereka dari kejauhan hingga bayangan mereka hilang dari mataku. Setiap kali aku melintasi rumah yang pernah mereka tempati dulu sudah berganti penghuni, tawaku pun hilang. Dan di teras rumahku, aku masih bisa mencium wangi bedak mereka yang membuat sebuah rasa bernama rindu bertamu di hati. Diam-diam aku berharap ada keajaiban yang akan membawa mereka kembali lagi ke sini.

Teras rumahku semakin sepi. Hanya ada aku, Lilis, dan Angga. Angga makin jarang ikut main seiring dengan usia kami yang semakin bertambah. Pasti jiwa lelakinya pun makin kuat. Jadilah aku bermain berdua dengan Lilis. Tapi itu membuat kami semakin dekat. Mungkin inilah hikmah dari sebuah kehilangan. Kau akan lebih mencintai apa yang masih kau miliki sekarang. Dan itu adalah Lilis, sahabatku.

Kebetulan Lilis ini sahabat pertama yang aku kenal di antara yang lain. Dia paling baik dan paling sabar. Dia juga sering mengalah padaku. Jadi boleh dibilang dari dulu kami paling jarang bertengkar dibandingkan dengan yang lain.

Bertahun-tahun aku dan Lilis melewati pukul 4 sore bersama. Dengan permainan yang meski diulang-ulang tetap tak membosankan. Dengan segala pertengkaran kecil yang tak sekalipun membuat kami jadi bermusuhan. Bolehlah aku punya hari yang tak menyenangkan di sekolah. Tapi teras rumahku selalu menghapus segala kesedihan yang aku rasakan.

“Hingga hari ini pun tiba…” Aku terdiam lagi, menjeda ceritaku lebih lama dari sebelumnya.

Mataku mulai berkaca-kaca lagi. Tapi aku bukan anak cengeng. Aku tak mau menangis lagi. Meski rasa takut ini mengguncang-guncang pertahananku.

Sahabat baruku masih sabar menunggu kelanjutan ceritaku. Sementara aku sedang berusaha merapikan berbagai rasa asing yang tak menyenangkan.

“Besok Lilis pindah…” Aku tak sanggup melanjutkannya. Hanya bisa terdiam sambil memanyunkan kedua bibirku menahan tangis.

Kali ini aku benar-benar sedih. Khayalanku melewati masa remaja bersama Lilis pun buyar. Belum sampai ke fase itu, Lilis akan pindah juga meninggalkanku.

“Dia pergi pagi-pagi sekali. Apa yang harus aku katakan padanya sekarang? Di hari terakhir kami?”

Aku menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Aku memainkan pena yang sedang ku genggam. Pikiranku kosong.

Aku lirik jam dinding di kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Lilis tak akan datang karena dia sedang sibuk berkemas.

“Ah, bodoh! Apa yang sedang aku lakukan sekarang?” Tiba-tiba saja aku memarahi diriku sendiri.

Aku melempar penaku, meninggalkan sahabat baruku masih tergeletak di meja. Aku berlari ke rumah Lilis sambil membawa asa.

“Jadi pindah?” Pertanyaan bodoh yang tiba-tiba terlontar. Jujur saja aku berharap ada keajaiban yang membuatnya membatalkan niat. Kalau perlu dia bisa tinggal di rumahku, tidak ikut orangtuanya pindah ke Jambi.

“Iya, jadi, Yen.” Jawaban Lilis membuat harapanku lenyap tertiup angin.

Aku terdiam sambil sesekali mengintip ke dalam rumahnya. Keluarganya sedang sibuk berkemas. Rumahnya terlihat sedikit berantakan karena banyak barang bergeletakan.

“Nanti nggak bisa main bareng lagi, deh.” Lilis menggenggam tanganku.

“Iya…” Jawabku sedih.

“Jangan lupain aku, ya…”

“Iya, kamu juga.” Kami saling bertatapan sambil tersenyum. Tapi tentu bukan senyum bahagia.

“Andai ada yang bisa aku lakukan untuk menahanmu pergi. Kamu itu sahabat terbaikku. Aku berharap bisa melewati masa remaja bersama. Hingga kita tumbuh menjadi wanita dewasa. Hingga nanti anak-anak kita pun saling bersahabat.”

Aku ingin sekali mengatakan hal itu padanya. Tapi aku tahan. Aku sadar aku tak boleh egois. Aku pun tak berhak menahannya pergi.

Aku tak berkata apapun lagi kecuali membantunya berkemas. Hingga hari mulai gelap tanda aku harus pulang. Begitulah hari terakhir kebersamaan kami berlalu. Aku pamit dari rumahnya sambil menggenggam sehelai kertas alamat dan nomor telpon Lilis di Jambi. Yang beberapa hari kemudian membuatku menangis karena kertas itu hilang.

Kepindahan Lilis dan Angga menjadi akhir dari kisah klasik kami di teras rumahku tiap pukul 4 sore. Tak ada lagi kisah klasik season 2. Kisah kami memang bukan sinetron Cinta Fitri.

Setelah itu, aku lebih banyak menghabiskan pukul 4 soreku bersama sahabat baruku. Sebuah buku diary dengan cover bergambar Mickey Mouse. Hampir tiap hari aku menulis. Apalagi ketika usaiku memasuki remaja. Banyak sekali kisah yang aku coretkan. Bukan lagi tentang kisah permainan Barbie. Tebaklah sendiri kisah apa yang aku bagi.

Mungkin kelima malaikat kecil itu memang hanya Allah titipkan untuk menjadi sahabat di masa kecilku saja. Aku bersyukur mengenal mereka. Aku bersyukur ada mereka di masa kecilku :).

 

Sun, 15 Jun 2014

Dear Lilis, Angga, Cahya, Ester, dan Muti…

Hari ini aku teringat kembali akan kisah kita di masa kecil. Sudah lama berlalu. Tapi aku masih ingat suara teriakan kalian ketika kita bermain benteng-bentengan. Keributan-keributan ketika kita berebut mainan. Aaah… terlalu banyak untuk ku tulis semuanya di sini.

Mungkin dulu aku tak sempat mengucapkan ini. Terima kasih telah hadir di masa kecilku. Berkat kehadiran kalian, soreku selalu terasa menyenangkan. Berkat kalian pula, aku belajar menerima perpisahan. Belajar tetap tersenyum meski rindu datang menyerang. Bahkan kehilangan kalian membuatku jadi mulai menulis.

Jangan khawatir aku kesepian hanya berteman buku diary. Tidak. Saat menginjak remaja, aku bertemu sahabat-sahabat baru. Tak bisa aku bandingkan dengan kalian. Kalian punya tempat tersendiri di hatiku.

Semoga kalian baik di sana. Ingatlah kisah klasik kita pukul 4 sore bila kalian merasa lelah menjalani hidup ini. Semoga dapat menghadirkan tawa di wajah kalian.

Salam Rindu

Yeyen

Note: tulisan ini terpilih menjadi pemenang Writing Competition OWOP (One Week One Paper) bertema: Teman Masa Kecil. Alhamdulillah ^^

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s