Mengejar Napas, Menghirup Golden Sunrise

Standard

“Golden Sunrise”

Membaca tulisan itu membuat mataku meleleh. Bukan karena kata-katanya, melainkan foto-foto yang ada di atas tulisan itu.

OH-MYGOD!

Ada ya, sunrise semewah itu? Asli, langit benar-benar bertabur tinta emas yang perlahan menghapus hitamnya malam. Eksotis banget. Dan ternyata itu ada di Indonesia, di Pulau Jawa. Lebih tepatnya di Gunung Sikunir, Dataran Tinggi Dieng. Fotonya aja udah keren, apalagi kalau bisa lihat aslinya. Wooww…

image

The Golden Sunrise (Photo bukan koleksi pribadi)

Katanya cinta itu harus dikejar. Maka aku pun berniat mengejar sunrise yang sudah membuat mataku nggak bisa merem saking takjubnya. Meski sebenarnya aku ini lebih sering city tour daripada wisata alam. Apalagi kalau judulnya naik gunung. Belum pernah sama sekali. Apalagi naik pelaminan.  Tapi kata temanku -yang sudah khatam menjejakkan kaki di semua puncak gunung di Pulau Jawa-, trekking ke puncak Sikunir itu medannya tidak sulit. Cocok untuk pemula sepertiku. Yes! Aku mantap untuk pergi ke Dieng mengejar The Golden Sunrise.

Berbagai keperluan sudah aku siapkan mulai dari jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, senter, sepatu yang nyaman, air minum, dan kamera. Dan selepas subuh, aku bersama adik, teman, dan seorang Mas tour guide pun berangkat dari penginapan menuju pintu masuk gunung Sikunir. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 4.30. Semoga waktunya cukup mendekati mepet untuk bisa melihat golden sunrise dari puncak gunung. Katanya, cuma butuh waktu 30 menit untuk bisa berjalan sampai ke puncak.

Perjalanan pun siap dimulai. Aku naikkan resleting jaketku sampai ke leher, lalu kurekatkan kancingnya agar badanku tidak menggigil. Suhu di pagi itu cukup dingin, mencapai 10 derajat. Namun api semangat yang membara di dada cukup menambah kehangatan jiwa untuk menembus serangan dingin. Eaaa…

Mas tour guide mulai menuntun kami memasuki jalur trekking. Kondisi jalur sepi. Hanya kami berempat karena yang lain pasti sudah berangkat dari tadi. Hari pun masih gelap dan tak ada lampu penerangan sama sekali. Aku hanya bisa melihat bulatan cahaya dari lampu senter dan kepala temanku yang berjalan di depanku. Selebihnya aku tak tahu apakah di sisi kiri-kanan jalur ini adalah kebun, tebing, jurang, atau kolam renang.

Berteman suara jangkrik yang saling bersahutan, kakiku terus menapaki jalur trekking yang sempit. Lebarnya mungkin hanya cukup untuk satu setengah orang. Namun lewat cahaya senter aku bisa melihat jalur trekking sudah dilapisi batu bata.

Sepuluh menit sudah aku berjalan. Kakiku masih bersemangat. Tapi aliran udara di dadaku mendadak seperti anak kelas 1 SD yang sulit di atur saat baris-berbaris. Berlari-lari tak bisa tenang alias ngos-ngosan. Aneh, padahal biasanya kalau lagi city tour, aku nggak pernah kelelahan meski berputar-putar seharian keliling kota.

Aku berhenti sejenak untuk minum. Glek! Aku meneguk air es. Padahal tadi yang dibawa air biasa. Kurang cocok sebenarnya untuk diteguk di pagi sedingin itu. Tak lama, aku melanjutkan perjalanan. Nggak enak juga sama yang lain kalau jadi telat liat sunrise gara-gara kelamaan istirahat. Cuma 30 menit. Bertahanlah!

Tapi lagi-lagi napasku on-off. Sesak. Dan rupanya temanku pun merasakan hal yang sama. Akhirnya kami sepakat istirahat dulu. Aku coba melepas kancing dan menurunkan resleting jaketku agar bisa bernapas lebih leluasa. And Voila! Nggak sampai semenit, napasku sudah terasa normal lagi. Oalaa… rupanya gara-gara jaketku terlalu kencang, akhirnya menghambat pernapasan. Jadi bukan karena nggak kuat ya, hehehe.

image

Jalur trekking Sikunir

Perjalanan berlanjut. Beban di kaki terasa semakin berat. Rupanya medannya sudah tak sama lagi. Jalur sudah tidak berbata lagi melainkan tanah yang berbatu. Memang masih terasa rata, namun kemiringan semakin curam. Hingga kemudian kami dihadapkan pada undakan batu-batu dan tanah yang agak tinggi. Nggak sampai harus memanjat kayak di film 5 Cm. Tapi perlu pinjam tangan untuk bisa menaklukan pijakan demi pijakan. Dan lumayan bikin ngos-ngosan. Bukan lagi karena efek jaket, kali ini aku mengaku kelelahan.

Saat semangat agak surut dimakan lelah, di balik bukit kami melihat sebaris tipis cahaya jingga keemasan yang muncul malu-malu. Huaaa… itu golden sunrise udah siap muncul!

Kami nggak mau rugi kalau harus kehilangan momen keren itu. Tiba-tiba semangat jadi berkobar empat kali lipat. Aku lempar rasa lelah dan melanjutkan perjalanan mencapai puncak secepatnya.

Ooh,  please… tahan dulu…

Setelah berjuang mengejar napas yang tersengal-sengal, kakiku berhasil menginjak puncak. Tepat saat itu, pertunjukkan megah Sang Surya pun dimulai. Kedatangan kami disambut dengan sapuan tinta jingga keemasan yang menyelimuti langit Dieng. Perlahan warnanya menyebar hingga membuat langit malam berbenah pamit.

image

image

Subhanallah… Keren, cakep, kece, awesome, amazing, menakjubkan.

Entah kata apalagi yang bisa aku tuliskan untuk menggambarkan betapa “keren, cakep, kece, awesome, amazing, menakjubkan” pemandangan yang kulihat pagi itu. Kameraku pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen tersebut. Cuma beberapa menit saja. Sampai akhirnya warna emas itu berganti merah lalu kuning menyala bersamaan dengan kemunculan Sang Surya yang sudah membulat.

Tiba-tiba tubuhku terasa hangat. Seperti ada selimut tebal yang mendekapku. Seperti ada secangkir teh hangat yang melintasi lambung dinginku. Belum lagi pemandangan yang disajikan dari atas sini ikut memanjakan mataku. Aku bisa melihat puncak gunung-gunung yang mengelilingi Sikunir. Ada Gunung Merbabu, Gunung Simboro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Unggaran. Mereka berdiri kokoh seakan ikut tersenyum pada tamu Sikunir. Rasanya nggak sia-sia perjuanganku bersenggal-senggal ria untuk bisa sampai ke puncak. Pemandangan ini, hangat ini, membayar lebih dari lelah yang terasa.

Dan rupanya Dieng tak hanya menyimpan golden sunrise untuk menyambut tamu-tamunya. Tak jauh dari puncak Sikunir, Mas tour guide mendamparkan kami ke tempat-tempat yang tak kalah “keren, cakep, kece, awesome, amazing, menakjubkan.”

Pertama, kami diajak mengunjungi Kawah Sikidang. Lautan kawah putih yang mendidih dan mengepul terasa bak api unggun yang menghangatkan Dieng pagi itu. Bau belerang cukup menyengat tercium di sana hingga memaksaku untuk mengenakan masker. Namun katanya kadar belerangnya masih aman untuk dihirup.

image

Di jembatan Kawah Sikidang

Kami kembali diajak memanjat bukit untuk bisa melihat hamparan kawah-kawah itu dari ketinggian. Makin wow deh pemandangannya! Beberapa kawah yang berpencar bisa terlihat jelas dari bukit tersebut.

Dari Kawah Sikidang, kami beranjak ke Telaga Warna. Mataku jadi semakin adem melihat telaga berwarna biru pucat kehijauan tersebut. Apalagi ada dua batang pohon tua yang menyerusuk ke telaga membuat pemandangan jadi semakin cantik. Telaga ini bisa berubah warna jadi hijau atau kuning juga. Konon katanya ada cincin bertuah yang tercebur ke dalam telaga ini yang membuatnya berubah warna.

image

Telaga Warna sedang muram

Banyak legenda yang tersimpan di setiap objek wisata di Dieng. Termasuk gua-gua yang ada di balik Telaga Warna.

“Gua ini sering dipakai untuk tempat semedi. Dari mulai orang biasa sampai pejabat. Biasanya mereka yang semedi akan didatangi oleh ruh Eyang Semar untuk mendapat petunjuk.”

Krik…krik…

Cerita dari Mas tour guide membuat suasana jadi hening. Aku dan temanku yang sebelumnya sibuk mengambil gambar langsung menurunkan kamera. Takut kalau tiba-tiba ada model tak diundang yang muncul di hasil jepretan kami. Bau kemenyan tercium di sekitar gua yang dijaga oleh Arca Semar itu. Ada pula Gua Pengantin dan Gua Sumur yang juga memiliki cerita dan kekuatan magis tersendiri. Gua Pengantin dipercaya memberi kelanggengan pada pasangan. Sementara di dalam Gua Sumur, mengalir mata air yang suci. Cerita-cerita tersebut menghadirkan nuansa mistis di sana. Namun setelah Mas Tour Guide mengambil kameraku dan mengajak kami berfoto, suasana jadi cair kembali.

Kami meninggalkan gua-gua penuh cerita itu dan berjalan menuju sebuah bukit yang tampaknya agak tersembunyi. Lagi-lagi jalan menanjak, melompati batu-batu, dan sedikit memanjat. Mas tour guide tak memberitahu kemana kami akan dibawa. Hingga kami tiba di atas bukit dan oh-my-God! Asli, lagi-lagi kami mendapatkan pemandangan yang “keren, cakep, kece, awesome, amazing, menakjubkan”. Kami bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas sini. Bersama dengan bukit dan hutan yang mengelilinginya. Keren gila!

What a wonderful view

What a wonderful view

Perjalanan kami ditutup dengan menikmati sisa-sisa peninggalan sejarah di museum dan kompleks Candi Arjuna.

Sungguh perjalanan yang tak terlupakan. Terdampar di berbagai sudut Dieng yang menakjubkan. Setelah perjalanan tersebut, jiwaku pun mulai teradiksi untuk menemukan tempat-tempat keren, cakep, kece, awesome, amazing, dan menakjubkan lainnya di Indonesia. Hope to get stranded again \(^.^)/.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s