Nobita Dan Sebuah Nostalgia

Standard

Nobita-san, you remind me of someone.

Melihatmu di film Doraemon: Stand By Me membuatku senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat pada seseorang. Sama sepertimu, dia benar-benar pemalas. Tidak punya motovasi belajar. Yang ada di pikirannya cuma main saja.

You remind me about someone

You remind me of someone

 

Wajah sih tak mirip. Tak pakai kacamata juga meski hobinya main PS. Nilai-nilainya sedikit lebih baik darimu. Pas-pasan lah. Dia pernah 2 kali masuk 10 besar. Meski menurutnya itu hanya sebuah keberuntungan.  Dia juga pernah iri denganmu yang punya doraemon. Tadinya. Tapi kini dia bersyukur. Karena dia, punya keajaiban lain melebihi Doraemon.

“Anak-anak, pengambilan rapor minggu depan sama orang tua, ya.” Ucap guru di akhir sesi ujian yang membuat gempar seisi kelas.

“Yaaaah…” Desah kecewa seisi kelas pun pecah.

Wajah para murid yang sudah stres menghadapi ujian dihantam ketakutan. Mereka saling berbisik. Katanya gawat kalau rapor diambil ortu. Bisa-bisa mereka kena semprot di sekolah kalau nilai rapornya jelek. Hampir semuanya cemas, termasuk anak setipe Dekisuki dan Shizuka yang langganan juara kelas. Mereka juga takut.

Sementara aku cuma mengernyitkan dahi penuh heran. Aku baru saja menikmati kebahagiaan karena berhasil menyudahi hari-hari ujian yang panjang ini. Ini waktunya bermain. Sebentar lagi liburan. Tapi kenapa teman-temanku ketakutan?

Aneh. Mamaku tak pernah marah kalau nilai raporku jelek. Aku pun tak ambil pusing soal nilai-nilaiku. Pasrah saja lah. Bagaimanapun aku berusaha, tak akan bisa mengalahkan Dekisuki atau Shizuka. Mereka memang sudah pintar sejak lahir. Pintar itu gifted. Dan aku tak tak terlahir sebagai orang pintar.

Sama seperti Nobita. Begitulah aku saat itu. Bedanya, mamaku tak segalak ibu Nobita. Dia tak pernah marah melihat nilai rapor anaknya jelek. Dengan wajah bersahajanya dia selalu bilang: “Nggak apa-apa. Nanti belajar lagi yang rajin, ya. Anak mama kan hebat. Anak mama pinter.” Begitu selalu katanya diiringi senyum pelipur lara. Senyum yang penuh kepercayaan.

Hatiku tergelitik. Meski tak terlahir pintar, tapi aku patut bersyukur karena Allah telah memberiku mama terbaik. Mama yang tak pernah menjatuhkan anak-anaknya. Mama yang tak pernah menuntut ini itu. Ucapannya penuh pujian. Dan matanya penuh kepercayaan. Diam-diam dia selalu berdoa agar anak-anaknya bisa jadi orang sukses.

“Ya Allah, bagaimana reaksi mama jika anaknya membanggakan seperti Dekisuki atau Shizuka?” Pernah aku menanyakan hal itu dalam hati. Meski pertanyaan itu tak serius aku cari jawabannya. Aku masih tetap jadi anak yang malas dan cuma suka main. Sampai rasa takut menyerangku di tahun ke-6 aku bersekolah SD.

Aku takut nggak lulus. Dan kalaupun lulus, aku takut nggak masuk SMP unggulan. Takut sekali masa depanku suram. Sudah tak punya kebanggaan pada diri sendiri ditambah masa depan yang suram. Sedih nian hidupku.

“Kalau mau masuk SMP itu ya harus belajar yang rajin.” Mama menasehatiku. Aku cuma diam tak percaya diri.

“Anak mama kan hebat. Anak mama pinter.” Katanya lagi mencoba meyakinkanku. Ia bilang akan bantu aku untuk belajar.

Mama, dari mana asal keyakinan itu? Cuma mama dan papa yang bilang begitu. Orang lain bahkan aku sendiri tidak. Apa karena kalian orangtuaku? Apa semua orangtua berkata begitu?

Aah, bukan waktunya memikirkan hal itu. Ini kondisi terdesak. Aku tak punya Doraemon yang bisa mengeluarkan alat-alat ajaib. Mau tak mau, aku harus berusaha keras. Aku harus belajar mati-matian demi bisa lulus dan masuk SMP unggulan. Aku harus belajar 10x lebih keras dari Dekisuki dan Shizuka.

Please Allah, kali ini saja, luluskan aku. Jangan biarkan aku tinggal kelas. Pintaku, pertama kalinya, begitu serius pada Allah.

Tak lama setelah itu, guru-guruku pun heboh. Mereka mengabarkan pada mama tentang nilaiku yang masuk ke SMP unggulan. Mereka takjub setengah tak percaya. Nobita ini bisa masuk sekolah unggulan.

Mama senang luar biasa. Matanya berbinar penuh syukur. Sementara aku senang. Senang sambil bengong. Aku akan masuk sekolah yang isinya Dekisuki dan Shizuka semua. Huaaaaa!!!! Bagaimana kalau aku jadi anak paling bodoh di sana? Tertinggal jauh dari mereka? Ya ampun x.x. Rasanya perjuanganku belum berakhir.

Ketakutan pun memaksaku untuk berkomitmen dengan diri sendiri. Aku harus lebih serius belajar. Targetku tak muluk-muluk. Yang penting nilaiku bukan yang paling buruk. Dari pengalamanku persiapan ujian SD, aku tahu kalau aku harus banyak latihan untuk bisa mengingat pelajaran. Maka saat SMP, aku melakukan cara yang sama. Semua penjelasan guru aku tulis dengan gayaku. Jadi lebih mudah diingat. Aku rajin mengerjakan PR karena itu salah satu kesempatan untuk latihan.

Aku sudah berusaha semampuku. Hingga hari pembagian rapor tiba. Hari itu aku sendiri yang mengambilnya. Tak ada ekspresi apa-apa saat melihatnya kecuali jeritan di hati. Aku buru-buru pulang menunggu mama. Tapi mama belum juga pulang hingga aku kelaparan. Aku putuskan untuk beli Mie Ayam di dekat rumah.

Saat sedang menunggu pesananku dibuat, aku melihat mama berjalan di ujung gang. Dari kejauhan, kami saling berpandangan. Hatiku penuh gejolak. Asaku berjingkrak-jingkrak dalam hati. Tak tahan rasanya menunggu sampai mama tiba di hadapanku. Lalu dengan wajah gegap gempita aku menaikkan tangan kananku seperti ingin mengajak tos. Mulutku sambil komat kamit mengatakan “Rangking lima, rangking lima.”

Aku girang setengah mati. Nobita sepertiku bisa masuk 5 besar menyaingi para Dekisuki dan Shizuka. Sambil setengah berjingkrak, aku tetap membiarkan tanganku terangkat. Senyumku pun tak bisa lepas dari wajah.

Lalu aku terperanjat. Tiba-tiba aku melihat matahari ada dua siang itu. Di langit dan di ujung gang. Ya Allah, itu senyum mama. Senyum sumringah bertabur bangga dan bahagia. Senyum bersahaja dan menenangkan yang biasa kulihat tiap pembagian rapor berubah jadi senyum yang megah.

Hatiku bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, aku merasa bangga pada diriku sendiri. Bangga karena telah membuat Mama bangga. Bangga karena berhasil membuat mama tersenyum megah. Ternyata, begini rasanya membahagiakan orangtua.

Akhirnya aku tersadar. Ternyata siapapun bisa menjadi Dekisuki atau Shizuka. Dan bila dia tetap jadi Nobita yang pemalas, maka itupun pilihannya sendiri. Karena pintar bukan bawaan lahir. Semuanya karena kerja keras, keyakinan, dan doa seorang ibu lewat kata-katanya.

“Anak mama kan hebat. Anak mama pinter.”

Sejak hari itu aku berubah jadi Dekisuki yang suka sekolah dan rajin belajar. Bukan lagi karena rasa takut. Tapi karena senyum itu telah membuatku kecanduan. Aku tak perlu hadiah apalagi Doraemon. Cukup senyum megah itu saja. Senyum ajaib dari Doramama.

Doramama n I

Doramama n I

Terima kasih Mama, untuk semua kepercayaanmu. Semoga mama selalu bangga. Semoga mama selalu bahagia. Selamat hari ibu. Love you more and more…^^

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s