Mimpi 80 Dollar

Standard

The gate has closed.

Aku ketinggalan pesawat. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan ingin roboh.

Ini pasti gara-gara keasyikan muter-muter di Ion Orchard. Pake kelamaan pilih jam tangan. Padahal harus balik hostel dulu ambil barang. Ribet ini itu di hostel. Udah mepet tetep nggak mau naik taksi. Biar hemat. Ternyata MRT-nya *&%$#$%%*!$**#@#

Cukup! Cukup! Nggak ada habisnya mengekor penyebab dari semua ini. Aku sedih, kesal, bingung. Tapi berbunga-bunga.

“Nggak bisa di-reschedule, Cin?” Cun, travelmate-ku bertanya.

*Jangan heran kenapa ada Cin dan Cun. Itu panggilan kesayangan. Cin itu panggilanku. Sebenarnya ada satu lagi, Can, tapi kali ini dia absen ikut traveling*

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

“Nggak bisa, harus pesen baru, Cun.” Aku mengelap keringat yang bercucuran di dahi.

Aku dan Cun meluruskan kaki sambil bersandar di salah satu spot terminal 1. Kami kelelahan karena berlari dari MRT station ke counter check in. Lalu kaki kami yang sudah diajak muter-muter Singapura selama 3 hari ini masih belum bisa istirahat. Harus mondar mandir ke terminal 1 dan 2 untuk mengecek penerbangan dari berbagai counter airline. Sambil menggerek koper dan perut lapar. Fyuhh…

“Kalau flight malam ini paling murah 1.5 juta.” Kataku merangkum hasil perbandingan harga.

“Mahal banget. Kemarin kita beli pesawat PP berapa?”

“Lima ratus ribu.” Jawabku.

“Nggak ada yang murah lagi? Biasanya kan ada yang suka promo.”

“Nggak ada Cun. Kalau promo biasanya buat jauh-jauh hari dan via online. Penerbangan terakhir kurang dari 2 jam lagi. Jadi harus beli di counter.”

Ottuke*? Malam semakin larut. Beberapa counter airline sudah tutup. Kami harus segera mengambil keputusan. Mau pulang naik apa.

Aku dan Cun menimbang-nimbang sambil memandangi Kinetic Rain di hadapan kami. Awesome! Setidaknya di momen seperti ini, kami bisa melihat karya seni modern yang luar biasa keren. Ribuan bandul tembaga berbentuk seperti tetesan air meliuk-liuk dengan koreografi nan indah di sepanjang terminal 1 ini.
Kinetic Rain, teman melepas penat

Kinetic Rain, teman melepas penat (Source: id.changiairport.com)

“Ada besok pagi nih, masih di bawah 1.” Aku menunjukkan halaman website pemesanan tiket di handphone. Mataku memandangi Cun penuh modus.

“Tapi kalau pulang besok berartikan harus nginep. Tambah rugi, dong.” Cun terlihat berpikir keras. Di kepalanya pasti sedang mengkalkulasi angka-angka.  Aku paham sekali karena dari awal niat kami adalah traveling hemat. Meski sudah ternodai dengan ke-khilafan belanja. Ditambah harus beli tiket tambahan. Gagal maksimal.

“Nggak usah nyewa hotel lagi.” Ucapku dan semoga bisa menenangkan Cun.

“Trus?”

Nah! This is what makes me feel so excited. Kyaaa…

“Kita nginep di bandara aja.” Saranku dengan mata berbinar-binar.

Please, say yes.

Cun terlihat masih mikir-mikir sambil melempar pandangan ke setiap sudut bandara.

“Di dalem ada tempat istirahatnya. Enak kok.” Tambahku lagi untuk meyakinkan Cun.

“Ya udah, deh. Gitu aja.”

YES!!!!

Akhirnya, mimpiku terwujud. Mungkin terdengar aneh, mengherankan, nggak banget. Tapi keinginan ini selalu terngiang-ngiang selama setahun belakangan ini. Mimpiku itu…

Menginap di Bandara Changi Singapura ^^

Kenyamanan bandara Changi sudah terkenal se-antero dunia. Bahkan bandara ini menyandang predikat sebagai Best worldwide airport versi majalah Wanderlust UK selama 12 tahun. Wow!!

Fasilitasnya itu loh yang bikin gemes. Mulai dari kursi pijat anti pegel, TV lounge, Movie theater, sampai snooze chair yang cozy buat bobo. Nggak sabar menghabiskan malam di sini.

Snooze Chair

My dream Snooze Chair (blog.36hours.in)

Sebenarnya di awal perjalanan, aku berniat mengambil flight paling malam dari Indonesia ke Singapura demi bisa menginap di bandara. Asli, penasaran banget. Banyak traveler yang “manas-manasin” tentang pengalaman mereka nginep di sini. Patut banget dicoba sensasinya. Tapi setelah tanya sana-sini, katanya rencanaku itu berpotensi diusir sama petugas. Dilarang menginap kecuali menunggu penerbangan berikutnya. Jadi rencana pun dibatalkan.

Tapi skenario pun bergulir pada twist cerita yang tak terduga. Kalau menunggu penerbangan besok pagi, harusnya aman dong untuk menginap? Yippiiiee….

Aku pun buru-buru menyelesaikan proses pembelian tiket via online. Kami dapat tiket seharga 86.5 SGD. Thanks to my credit card for saving us. Mahal sih. Tapi anggaplah harga untuk membayar pengalaman yang akan aku dapatkan. *Sugesti positif, biar nggak nyesek :D*

“Oke, beres. Yuk!” Aku mengajak Cun bergegas untuk ke counter check in.

Perutku sudah keroncongan dari tadi. Kaki juga udah nggak sabar mau dipijat. Setelah dipijat, pasti tidur nyenyak banget. Aaak! Can’t wait!

Aku dan Cun beranjak dari lantai dan menggerek koper menuju counter check in. Ada senyum sumringah terpajang di wajahku. Tapi kemudian senyum itu menguncup. Padam. Lengkung bibirku berbalik ke bawah. Alis dan mataku ikut bergerak turun.

Kenapa begini? Sedikit lagi saja, mimpiku akan terwujud. Tiket maskapai yang kubeli belum bisa check in online. Dan counter check in udah TUTUP!!

Hiks…hiks… Tanpa check in, nggak bisa masuk dong? Gimana nasib bermalam di bandara? Akankah berakhir di ruang tunggu? Atau terpaksa booking hotel lagi? Oh, it’s gonna be an unforgettable night.

(to be continued)

 

Note (*):

Ottuke = bagaimana ini? / apa yang harus aku lakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s