Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final

Standard

Dua wanita itu menatapku dengan heran tepat setelah aku melontarkan sebuah jawaban. Melihat penampilan mereka yang elegan, dengan baju yang pastinya branded, dan kursi jabatan yang mereka duduki saat itu, mereka bukan orang sembarangan. Pasti orang cerdas. Dan tatapan heran itu pasti sangat beralasan.

“Masa kecil mereka itu susah. Kenapa kamu iri sama mereka?” Tanya seorang dari mereka- yang berambut pendek. Aku duga jabatannya lebih tinggi dari wanita yang satunya.

Aku menarik nafas sejenak sambil tetap pada posisiku. Duduk tegap di hadapan mereka dengan tatapan yang tak sekalipun kabur meski sudah dihujam banyak pertanyaan. Di detik itu juga aku mengulas senyum yang diikuti dengan jawaban.

“Saya iri karena masa kecil mereka begitu kaya dengan pengalaman. Yang meski susah tapi tetap meninggalkan keseruan dan kesenangan. Masa kecil saya tak sekaya mereka.”

Selesai. Wawancara yang berlangsung sekitar 20 menit itu akhirnya ditutup oleh dua kepala yang manggut-manggut setelah mendengar jawabanku itu. Wawancara yang akhirnya mengantarku masuk ke salah satu TV nasional di Indonesia.

Boleh dibilang rasa iriku ini turut mengantarku ke sana. Rasa iri pada sekelompok anak yang tumbuh besar di Belitong. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun.

Betapa tidak? Mereka dilimpahi kekayaan kisah kecil yang sangat seru. Mulai dari kejadian-kejadian konyol di sekolah, bertemu buaya besar dalam perjalanan, sampai petualangan mistis ke Pulau Lanun mencari Tuk Bayan Tula. Kalau aku, hmm…

Aku tak bilang hidupku tak seru. Hanya kalah seru dengan mereka. Makanya aku seakan “haus” pengalaman yang menantang batas. Salah satu alasanku senang sekali naik gunung, pergi ke tempat baru dan menyasarkan diri di sana, bahkan aku pernah berkhayal pesawat yang aku tumpangi tiba-tiba mendarat darurat di tengah hutan. Tapi langsung aku tutup dengan istighfar (x.x) :D.

And now here I’m…

Terdampar letih dan mengantuk di salah satu sudut bandara terbaik di dunia versi Skytrax. Delapan jam menuju penerbangan pulang ke Jakarta. Dan aku masih bersikukuh tak mau mencari penginapan atau menyewa nap room di bandara.

Nope. Let me feel the sensation of being “luntang lantung” at the airport. Meski sebenarnya yang aku khayalkan sebelumnya bisa bobo cantik di lounge Changi yang bikin gemes. Tapi di sinilah poinnya. Sebuah tantangan!!

Kata Ray Bradbury “Half the fun of travel is the aesthetic of lostness.” So, let’s have fun!!

Fuh! Fuh! Fuh!!!

Dengan tenaga yang sudah limited, aku menarik tubuhku untuk berdiri. Asaku masih berjingkrak-jingkrak untuk menemukan nap room gratis di departure hall ini. Masa sih nggak ada???

Sudah sepuluh menit aku dan Cun muter-muter lantai 2. Sudah hampir jadi penumpang ngesot. Sampai akhirnya langkah juntai kami terhenti. Sepuluh meter di depan kami, kami menemukan apa yang kami cari.

“Cun… ituuuh…” Aku menunjuk ke arah depan dengan mulut yang mungkin setengah menganga.

Ada hamparan “kasur” terbentang di hadapan kami. Dan yang lebih menawan dari itu, pemandangan yang tersaji di balik kaca besar di sekeliling ruangan.

Ya Allah, berkali-kali aku pergi ke bandara, sering banget lewatin viewing room, tapi nggak pernah seindah malam ini. Lukisan hidup. Burung Besi di dalam “sangkar” dengan latar langit malam yang syahdu. Aiih,,, cool!

Aku dan Cun merapatkan diri ke pinggir kaca. Berdiam diri beberapa saat sambil menikmati suasana malam di balik kaca. Menikmati kesunyian di balik langit malam yang tampak elegan dengan sentuhan lampu-lampu bandara. MashaAllah! Luar biasa! Awesome! Daebak! Sejenak, kami lupa dengan kelelahan kami. Pemandangan ini membayar segalanya. Sukaaa banget :).

Satnight @ Changi Airport

Burung Besi dan Langit Malam yang syahdu

Setelah puas menyesap keindahan “lukisan” hidup ini, kami pun beranjak dari sana dan mulai mencari “kasur” untuk tidur. Harus dikasih kutip karena bukan sebuah alas tidur yang terbuat dari busa nan empuk. Tak ada bantal apalagi selimut. Hanya hamparan kursi-kursi kayu yang berjajar pararel. Tapi hampir semuanya “sold out” karena rupanya banyak travelers senasib yang bobo cantik di sana.

Bule aja bisa tidur nyenyak :D

Abang Bule lagi bobo cantik 😀

Hmm… kursi selebar 3 jengkal. Awalnya sempet bingung gimana caranya tidur karena kami cuma dapat satu deretan kursi untuk berdua. Belum lagi ada rasa khawatir untuk keamanan barang-barang kami kalau ditinggal tidur. Tapi bismillah saja lah. Itu abang Bule aja bisa bobo dengan tenang.

Jadi setelah kami bolak-balik atur posisi sampai tumpang tindih kaki, bisa juga menemukan posisi “nyaman” untuk tidur sambil “mengamankan” barang-barang berharga kami di bawah kepala. Alias di masukkan ke dalam satu tas dan dijadikan bantal.

Time to sleep? Maunya sih gitu. Tapi sumpah AC-nya dingin buanget! Meski udh sembunyi dibalik jaket dan mukena, dinginnya tetep kerasa. Apalagi blower-nya kenceng banget. Akhirnya aku dan Cun urung untuk tidur. Kami malah mengobrol, menertawakan kejadian demi kejadian yang kami lalui selama perjalanan ini. Mulai dari kejadian lambaian tangan di KM 42 yang mengawali perjalanan kami. Cenat Cenut Rindu yang membuatku sumringah ketika tiba di sini. Kisah PHP di boardwalk yang membuat kami sempat manyun. Tragedi Nyasar ke China yang berkesan. Sok sok hemat mencari yang Serba Gratis Di Singapura. Dan kejadian lain yang belum sempat kuceritakan di blog ini.

Satu hal yang aku syukuri, aku pergi bersama teman yang bisa tetap tertawa menghadapi tragedi, kesialan, dan kekonyolan yang terjadi. Thanks Cun for being a nice travelmate :*.

Tawa kami perlahan mulai surut seiring dengan mata kami yang mulai kembali kantuk. Akhirnya kami tertidur pulas sampai alarm berbunyi pukul 3.30 pagi dan kami pun terbangun dalam kondisi menggigil parah.

Brrr…. Sekujur tubuhku bergetar. Gigiku bergemertak. Ini lebih dingin daripada puncak Sikunir. Beneran deh! Tubuhku baru berhenti berguncang setelah secangkir teh hangat mengalir ke dalam tubuh. Aaah… hangat sekali.

Setelah merasa hangat, kami langsung meluncur untuk check in dan masuk departure lounge. Tempat yang semalam kami idam-idamkan untuk istirahat. Setidaknya pagi ini kami bisa merasakan betapa empuknya kursi tunggu di sini. Apalagi sandaran kursinya. Ya ampuuun, bersahabat sekali dengan punggung kami yang remuk.

Kami tak sempat mengeksplor banyak tempat di lounge ini, termasuk mencicipi snooze chair di sini. Waktu kami tak terlalu banyak. Kami takut ketinggalan pesawat lagi. Oh, not anymore please :D.

Kami hanya menukarkan refund pajak 11 SGD kami yang akhirnya tak jadi kami pakai untuk sarapan. Tidak selera. Lalu kami habiskan waktu menunggu di atas kursi pijat, my favorite Osim :*.

Pukul 7.15 pesawat kami take off membawa kami kembali ke Jakarta. Kepulangan kami disambut oleh Jakarta yang banjiiir… jir.. jir…

Oh my God! Ternyata semalam hujan lebat nan parah sehingga meninggalkan jejak kepungan air di mana-mana.   Kebayang kalau semalam sudah tiba di Jakarta, mungkin kami akan stuck di jalan karena pasti macet parah. Alhamdulillah, ada hikmahnya juga ketinggalan pesawat. Daripada nginep di jalanan, mendingan nginep di bandara kan? Hihihi :p

Fabi ayyi alai rabbikuma tukazziban

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s