Dikunciin Di Singapura

Standard

Siapa sangka, segenggam keberanian untuk solo traveling ke negeri orang membawaku berdiri terkuras lelah di depan sebuah pintu besi.

Entah sudah berapa lama aku terkunci di sini. Aku sudah terlalu lelah untuk menghitung waktu. Suaraku pun sudah payah. Tak sanggup meminta tolong di tengah sunyi senyap suasana. Meski sesekali kudengar sayup-sayup suara kendaraan yang lewat. Apakah mereka tahu aku di sini? Adakah dari mereka yang akan jadi penolongku? Kapan aku bisa terbebas dari sini?

Help!!!

12 jam sebelumnya

Osiiiim…

Mata berbinar-binar waktu liat Osim duduk manis di tempat biasanya. “Sim, I miss you…”, teriak dalam hati sambil dadah dadah dalam imaji.

Aku tak sempat pijat-pijat dulu bareng Osim karena harus segera sampai ke Universal Studio Singapura (USS) setelah mendarat di bandara Changi, Singapura. Kalau ada yang penasaran Osim itu siapa, bisa klik di sini untuk kenalan.

By the way, aku seneng banget akhirnya bisa nyobain rasanya solo traveling. Meskipun ini karena terpaksa hihi. Karena sejujurnya, nggak pernah ada niat untuk solo traveling apalagi ke taman bermain. Tapi berhubung ada sisa cuti yang akan expired dan nggak ada temen yang pas jadwalnya, terpaksa deh aku pergi sendirian. Sengaja pilih ke Singapura selain kangen sama USS juga karena udah cukup familiar sama tempatnya. Jadi nggak terlalu takut.

“Hati-hati, Neng. Sendirian di sana.” Palingan ini aja sih yang bikin khawatir. Khawatir bikin mama khawatir. Makanya pas baru mendarat tadi, aku langsung kasih kabar ke mama supaya tenang.

Eh, udah jam 10 lewat. Deg-degan banget nih, aku harus memburu waktu. Bukannya takut USS tutup. Masih lama sih tutupnya. Tapi aku ada janji sama pihak travel yang pegang tiket USS aku. Dan katanya cuma nunggu sampai jam 12. Huaaa…

Kalau ditanya kenapa harus janjian sama orang untuk ambil tiket, ini karena aku beli tiket USS-nya di agen tur Indonesia dengan harga paling murah sepanjang aku browsing. Cuma memang agak ribet sedikit karena harus janjian untuk tukar dengan tiket asli. Nggak tau orang yang akan ditemui rupanya seperti apa, karakternya gimana, hobinya apa. Eh, kok kayak mau ketemu jodoh =D.

Aku cuma berbekal patokan tempat ketemuan dan sebuah nomor telepon yang tak bisa aku hubungi. Belum sempet beli nomor singapura. Dan sebenernya nggak niat beli juga sih. Mendingan uangnya dipakai buat makan hehe.

Naik MRT ke USS bisa memakan waktu satu jam lebih. Karena harus pindah jalur MRT dan transfer Sentosa Ekpress dari lantai B2 ke lantai 3 mall vivocity. Kalau naik taksi hanya setengah jam. Tapi harganya bisa 10x lipat. Hmm… berhubung ini traveling hemat, aku putuskan untuk tetap naik MRT.

Perjalananku menuju USS ternyata tak sendirian. Ada kecemasan yang menemaniku. Sambil beberapa kali coba menelpon pihak agen dengan nomor indonesia-ku. Ya nggak bisa deh haha. Aku pasrah saja. Kalau memang nggak kekejar orangnya, mungkin aku akan beli tiket lagi (-.-“). Dan dugaanku pun benar. Begitu sampai di USS jam 12 lewat, orangnya udah nggak ada di tempat kita janjian. Hikss… Tega kamu, Bang!

Aku coba menumbuhkan harapan, mungkin orangnya lagi ngopi-ngopi atau ke toilet atau pindah tempat. Tapi ditunggu berapa lama, nggak ada juga. Lalu kutanya pada seorang petugas. Dan jawabannya membuatku sedih. “Tadi ada di sini. Tapi sepertinya sudah pergi.”

Would you please help me to call him? I can’t do that since i don’t have sing number,” pintaku pada si petugas begitu ingat harga tiket kalau beli lagi kan mahal. Emang ya, kalau berhubungan sama uang, otak bisa langsung kerja dominan mengalahkan perasaan sedih dan bingung hihi.

Lalu si petugas yang berwajah semi melayu dan terlihat masih brondong itu masuk ke dalam ruangan kaca. Tak lama dia keluar, dan mengarahkan telunjuknya pada pusat informasi di dekat USS Globe. “You can ask them to help you.

Aku menurut lalu mencoba meminta bantuan CS yang ada di sana. Dan CS itu pun menelpon si agen. Waah… baiknya.

Setelah aku menunggu sebentar, alhamdulillah aku dapat kabar kalau si agen masih ada di sekitar sini. Dan tak lama, agen itu pun datang sambil cengar cengir ramah. Wah, alhamdulillah banget, tiketku nggak hangus. Dan alhamdulillah juga aku nggak kena komplain karena datang telat. Baik banget deh si agen. Thank you, Sir. Thank you, CS. Sekarang aku siap bermain sepuasnya di USS ini sendirian. Huaaa… bagaimana rasanya pergi ke taman bermain sendirian?

Lapar.

Iya itu yang aku rasakan begitu masuk ke dalam USS. Belum makan dari pagi ditambah lagi tenaga lumayan terkuras karena lari-lari kecil selama perjalanan. Jadi meskipun semangat banget pengen main, aku putuskan untuk makan dulu. Alhamdulillah di USS ini ada beberapa pilihan restoran yang halal. Aku putuskan makan di Mel’s Drive-In (Zona Hollywood) yang nggak jauh dari pintu masuk.

Banyak yang bilang katanya kalau makan sendirian di restoran itu pasti awkward. Kalau fokus sama orang-orang di sekitar yang bergerombolan dan meratapi nasib kesendirian sih mungkin akan kerasa awkward. Tapi kalau kamu laper banget dan fokus sama makananmu, perasaan itu nggak ada sama sekali. Pun, orang-orang ada di sana buat makan, bukan buat merhatiin orang yang makan sendirian hehe. Lihatlah foto di bawah ini. Gimana nggak konsen makan, paket burgernya sebanyak ini. Jangan karena bukan nasi terus dikira nggak mengenyangkan. Asli, ini kenyang banget :D.

Porsi meat burger di Mel’s Drive-In lengkap dengan French Fries dan Salad

Aku sudah makan setengah porsi. Lalu kudengar suara gaduh orang-orang tiba-tiba banyak yang masuk ke dalam restoran. No wonder, di luar hujaaaaaaan…

Inginnya aku kesal, tapi hujan itu kan berkah. Waktu mustajab untuk berdoa. Astagfirullahal adzim. Sambil menunggu hujan reda, aku perlambat kecepatan makanku. Mungkin Allah mau aku makan dengan tenang, tidak terburu-buru karena nggak sabar mau main. Takut keselek cinta.

Sambil menikmati sisa makanan, aku mengamati sekeliling restoran ini. Unik juga restoran ini. Ada sebuah mesin jukebox berisi lagu-lagu hits dan juga hiasan piringan hitam. Ini nuansa tahun 50-an bukan, sih?

 Piringan hitam di Mel’s Drive-in

Setelah hampir sejam, akhirnya hujan pun mulai reda. Masih ada sisa-sisa rintik. Tapi aku putuskan untuk keluar dari restoran dan mencari wahana yang semoga buka. Untungnya USS ini punya beberapa wahana indoor. Jadi kalau lagi rintik-rintik gini, tetap bisa naik wahana. Misalnya wahana “Transformers: The Ride 3D”, “Revenge of The Mummy”, “Sesame Street Spaghetti Space Chase”, “Sherk 4D”, “Lights, Camera, Action”.

Aku naik Transformer: the Ride 3D dulu karena lokasinya nggak jauh dari restoran. Menurutku ini wahana 3D terbaik yang pernah aku coba. Kita bukan hanya duduk seperti di bioskop lalu menonton 3D sambil digoyang-goyang bangkunya. Ini kita naik ke sebuah kendaraan dan merasakan jadi bagian dari tim transformer yang melawan penjahat. Karena petualangan di jalanan, sudah pasti berkecepatan tinggi dan penuh gimmick hampir nabrak, bahkan terjatuh dari atas gedung. Seru deh.

Salah satu interior dalam antrian wahana Transformers The Ride 3D

Bukan hanya petualangan 3D-nya yang seru dan banyak gimmick. Tapi juga sepanjang antrian, kita disuguhkan interior dan atribut ala-ala transformer. Jadi kalau antrian agak lama apalagi sendirian krik krik kayak aku gini, masih bisa dinikmati. Bahayanya setelah naik, kamu pasti akan langsung kangen pengen coba lagi. Jadilah aku naik lagi sekalian nungguin hujan yang tiba-tiba turun lagi.

Setelah dari sana, aku bergeser menuju kediaman mummy. Dan tanpa basa basi, aku langsung masuk ke wahana Revenge of The Mummy. Roller coaster indoor super kece dan sama-sama ngangenin. Eh, tapi tunggu. Ini kok ada jalur single rider, ya. Maksudnya gimana ya? Waktu masuk ke transformer juga sebenarnya aku lihat ada jalur yang sama, tapi aku cuekin. Aku kira ngeledek. #Eh =D.

Berhubung aku nggak baperan, jadi aku masuk antrian jalur single rider. Daaan ternyata kayak jalan tol. Lancar jaya menuju kereta. Sementara mbak dan mas lain masih stuck dalam antrian, aku udah naik doong. Hihihi. Karena sistemnya di tiap baris kereta kan muat untuk 4 orang. Nah, biasanya ada rombongan yang cuma 3 orang. Sehingga sisa seat yang kosong bisa dinaikin sama single rider. Jadilah antriannya lebih cepat. Nggak sampai 5 menit ngantrinya. Berkah single banget.

Yang single di tengah aja

Cerita sedikit tentang wahana ini. Yang bikin roller coaster ini seru karena sepanjang permainan itu gelap gulita. Jadi kita sama sekali nggak bisa liat track-nya seperti apa. Tiba-tiba naik turun, belok, miring. Dengan sesekali kemunculan mummy yang bikin kaget. Dan part yang paling aku suka adalah gimmick kejutan di tengah-tengah riding. Apakah itu? Coba sendiri ya. Kalau dibocorin nggak seru, hehe.

Sama kayak wahana Transformer, di wahana ini juga aku naik 2 kali. Bukan karena masih hujan. Tapi karena nggak sengaja lihat foto-foto hasil jepretan pas naik tadi, nggak ada yang kece. Mukanya nggak keliatan. Aku mau foto yang lebih oke dong. Hihi. Jadi masuk lagi ke jalur yang nggak bikin baper itu. Dan aku lihat masih ada mas dan mbak yang sama masih ngantri di sana. Hihi,, maaf ya jangan iri plis.

Nah, sedikit tipsnya kalau mau dapat foto bagus di dalam wahana (ini foto bukan pakai kamera sendiri ya, tapi memang dari vendor wahananya), harus siap siaga berekspresi cantik. Biasanya kamera ada di bagian atas dan posisinya sesaat sebelum wahana usai berjalan. Dan biasanya ada sinar flash yang muncul saat kamera men-jepret. Aku sudah nemu lokasi kameranya jadi sudah siap difoto. Say cheese…

Setelah berhasil mendapatkan foto yang oke, aku melanjutkan ke wahana yang most wanted banget dan udah lama banget bikin kangen. Battlestar Galactica Roller Coaster. Yeaaayy!!! Roller coaster outdoor ini ada 2 pilihan. Human atau Cylon. Kalau Human, kita duduknya seperti roller coaster normal. Seperti yang ada di Dufan. Tapi kalau yang Cylon, kita digantungin. Jadi kakinya nggak napak. Dan inilah yang paling seru.

Battlestar Galactica Roller Coaster kala mendung

Hiyaaa… tutup dong wahananya. Hiks… hiks…

Sedih banget,, tujuan utama main ke USS kan pengen naik wahana ini dan bawa pulang foto pas lagi naik wahana ini. Masa’ nanti harus balik lagi karena kangennya gagal diobatin?

Lagi-lagi karena berhubungan dengan uang, aku singkirkan rasa sedih dan cari informasi. Eh, ternyata nggak tutup. Cuma belum buka aja karena habis hujan. Yeaay… Jadi lagi dicek dulu kondisi wahananya. Oke, sambil nunggu wahana buka enaknya kita…. Solat dulu kali, Neng.

Eh, iya. Walaupun seru main, jangan lupa sama ibadah ya. Nggak usah khawatir mau shalat di mana. Nggak jauh dari wahana Battlestar ini ada mushola kok. Bersih dan cewek-cowok dipisah. Dan pas banget abis keluar dari mushola, aku melihat antrian Battlestar mulai dipadati pengunjung. Ikuuuut…

Sayangnya di sini nggak ada jalur single rider. Karena cuma 2 orang per baris. Jadi antriannya lumayan lebih lama dari yang lain. Tapi hal itu nggak bikin aku kapok. Aku naik beberapa kali biar puas. Karena belum tentu bisa balik lagi. Bonusnya yang bikin happy adalah berhasil bawa pulang foto sambil senyum menghadap kamera pas naik Cylon. Yeayy…

Nggak banyak wahana yang aku naikin. Selain tiga wahana itu, aku masuk wahana Sherk 4D dan Sesame Street. Udah itu aja. Karena hujan masih sesekali turun jadi agak nggak minat naik yang outdoor. Tapi puas banget karena bisa berkali-kali naik wahana favorit. Tadinya sebelum pulang, masih pengen naik roller coaster sekali lagi. Tapi badan rasanya udah cape karena bawa-bawa ransel yang lumayan berat. Dan tadi juga pas naik roller coaster sempet kehujanan. Jadi pengen cepat-cepat ke hotel, mandi, terus bobo deh.

Tapi sebelum pulang, sempetin dulu foto-foto. Soalnya dari tadi sibuk main, sampai lupa buat kenang-kenangan. Terutama foto di globe-nya USS. Eh, tapi kok susah ya foto selfie. Apalagi nggak pakai tongsis, fotonya nggak ada yang bagus =’D. Mau minta tolong sama orang agak-agak trauma gitu. Soalnya pas tadi siang minta tolong fotoin di depan Far Far Away Castle, malah dicuekin sok-sok sibuk. Hahaha.

Nggak kerasa udah jam 10 lewat aja. Aku baru sampai di Bugis Station setelah tadi sempat mampir dulu di McD untuk makan malam. Seriuosly, ini kemalaman sih. Niatnya aku nggak semalam ini balik ke hotel. Karena sendirian dan aku belum tahu lokasi hotelku di mana. Dan benarlah, jalanan sudah mulai sepi.

Aku langsung membuka capture-an peta petunjuk jalan dari stasion ke hotel tempat aku menginap. Tapi kok bingung, ya. Aku mau tanya orang, tapi aku lihat-lihat dulu. Salah tanya orang malah takutnya bisa bahaya. Bukannya suudzon, tapi waspada.

Akhirnya aku menemukan seorang uncle yang sepertinya bisa dipercaya. Dia baca alamat hotelku lalu kasih petunjuk arah. Oke lah, aku coba ikuti petunjuknya. Aku berjalan di trotoar sepanjang sisi jalan raya. Tapi eh, tapi, kok makin aku jalan, makin sepi ya. Jarang yang berkeliaran di sekitar jalanan yang aku lewatin. Padahal aku kira, letaknya di sekitar area Masjid Agung yang biasanya lumayan ramai. Ini nyasar nggak sih? Kubah masjidnya aja nggak keliatan.

Semua tempat di sepanjang jalan itu sudah pada tutup. Nggak ada aktivitas apapun. Sampai di depan sebuah kedai yang sudah tutup, langkahku terhenti. Aku enggan melanjutkan jalan saat melihat sosok dua laki-laki berkulit gelap. Perasaanku nggak enak. Lalu seorang dari mereka terlihat sedang mengangkat sesuatu di tangan kanannya. Tegang. Asli, aku dalam posisi siap lari. Dengan sisa tenaga yang termakan lelah, aku segera ambil ancang-ancang putar balik lalu kabur.

Tapi dalam sekejap, bahkan sebelum sempat aku bergerak, laki-laki itu berhasil mengangkat sebuah kursi. Aku tersentak dan seperti kaku menyaksikan apa yang dilakukannya setelah itu. Gelap. Aku merasa gelap. Tapi samar-samar aku masih bisa melihat ia menaruh kursi itu ke atas meja. Dia sedang beres-beres kedainya yang baru tutup.

Oooww…

Oke, fine. Yah, namanya juga lagi jalan sendirian. Maafin ya kalau agak-agak parno. Aku melanjutkan perjalananku mengikuti insting. Sepertinya di ujung jalan ini, aku akan temukan jalan tempat hotelku. Sepertinya. Kalau nggak nyasar.

Makin ke ujung jalan, aku bertemu lagi dengan jalan besar. Tapi mobil yang lewat nggak banyak. Sampai akhirnya aku berhasil menemukan hotelku di antara ruko-ruko di sisi jalan besar. Tapi kok nggak ada lobby-nya? Ini hotel apa bukan, sih? Masa’ aku ketipu hotel abal-abal?

Masuk nggak ya, kok kayak bukan hotel. Cuma sebuah pintu putih aja yang aku temukan. Tapi ada tulisan nama hotelku di sisi kanan. Bismillah, aku beraniin untuk masuk. Eh, dikunci. Hih??

Krik… krik…

Aku tengok ke sisi pintu ada tulisan. Katanya aku disuruh tekan angka 3 dan pencet bel untuk kontak ke lobby. Okeh, aku coba ya.

Tetot! Nggak bisa kebuka. Katanya salah kode. Omooo… gimana sih? Aku coba berkali-kali tetap nggak bisa. Aku tunggu beberapa saat berharap ada orang yang keluar dari pintu itu, tapi nihil. Mau telpon hotelnya pun kan nggak bisa. Ya Allah, badan udah capek banget. Pengen banget istirahat di atas kasur empuk ber-AC. Atau kalau itu terlalu mewah, cukuplah kursi. Itu lebih baik daripada kejebak di sini. Hiks…

Apa aku harus cari hotel lain aja di sekitar sini? Tapi di mana? Hotelnya enak apa nggak? Mahal apa nggak?

Nah, kan, masa’ bayar lagi? Oke, aku harus tenang. Coba bantu aku untuk pecahkan kode kunci ini. Lihat baik-baik foto ini.

Kode oh kode

Ini nggak kelihatan palsu kan? Aku nggak ketipu kan? Aku disuruh pencet angka 3, kan?

Eh?

Salah, ya?

Harusnya angka 0 dan 3?

Ok, deh. It’s my fault. (x.x)

Sumpah malu banget sama diri sendiri. Udah jelas-jelas ditulisnya 03, bukan 3. Dan bener aja pintu pun akhirnya berhasil di buka =D.

Maaf, mungkin karena kebanyakan jungkir balik naik roller coaster, otaknya jadi error. Maaf gara-gara itu, kalian jadi mengkhawatirkan aku (ge-er banged) dan baca tulisan ini sampai selesai (^-^)v. Tapi semoga pengalamanku ini bisa diambil manfaatnya. Yang bodoh-bodohnya jangan diikutin hihi. Khususnya buat yang belum pernah ke USS atau ada niat mau solo traveling ke Singapura. Saranku sih, tetap tenang dan pastikan bawa bekal informasi yang cukup supaya nggak mengalami masalah. Punya kuota internet lebih baik lagi. Tapi apapun persiapannya, sejujurnya aku tidak sarankan cewek untuk solo traveling. Bersama teman apalagi pasangan pasti jauh lebih aman.

Well, aku istirahat dulu ya… and btw, hotelnya nggak abal-abal kok. Bagus banget dalemnya. Meski hotel capsule tapi nyaman banget. Alhamdulillah.

Kapan-kapan aku sambung lagi dengan cerita lainnya.

Thank u ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s