Author Archives: Yeyen Sundari

About Yeyen Sundari

I'm passionate about writing, traveling, cooking, sewing, and movie. Working @RCTI as TV Analyst, with psychological background.

9 Destinasi Patah Hati

Standard

Berdasarkan hasil observasi ke banyak orang, patah hati itu cenderung menguatkan jiwa sporty pada diri seseorang. Bawaannya pengen lariiii terus (dari kenyataan). Pertanyaannya mau lari kemana?

Gunung? Laut? Luar kota? Luar negeri? Luar angkasa?

Tempat-tempat berikut ini mungkin bisa jadi referensi untuk “olahraga” hati. Baca sampai habis ya, soalnya ada hadiahnya ;).

Destinasi Patah Hati

Destinasi Patah Hati

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final

Standard

Dua wanita itu menatapku dengan heran tepat setelah aku melontarkan sebuah jawaban. Melihat penampilan mereka yang elegan, dengan baju yang pastinya branded, dan kursi jabatan yang mereka duduki saat itu, mereka bukan orang sembarangan. Pasti orang cerdas. Dan tatapan heran itu pasti sangat beralasan.

“Masa kecil mereka itu susah. Kenapa kamu iri sama mereka?” Tanya seorang dari mereka- yang berambut pendek. Aku duga jabatannya lebih tinggi dari wanita yang satunya.

Aku menarik nafas sejenak sambil tetap pada posisiku. Duduk tegap di hadapan mereka dengan tatapan yang tak sekalipun kabur meski sudah dihujam banyak pertanyaan. Di detik itu juga aku mengulas senyum yang diikuti dengan jawaban.

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar (Part 2)

Standard

Hampir pukul 10 waktu setempat.  Aku merogoh sisa uang Singapore dollar di saku. Cuma cukup buat beli teh. Ditambah uang dari saku Cun. Ya, cukuplah buat 2 gelas atau 1 porsi nasi lemak. Perut kami langsung rusuh. Mereka mengajukan protes.

Udah, gesek aja. Bayar bulan depan. Bisik-bisik hedonis menyeruak di kepala.

Tidak! Tidak! Aku dan Cun sudah sepakat tidak akan menggesek kartu terbitan bank di dompet. Bukannya sok hemat apalagi pelit sama diri sendiri. Cuma nggak mau lebih menodai rencana awal kami untuk travel hemat. Sambil miris mikirin utang di kartu kredit yang cukup menguras gaji bulan depan.

Satnight @ Changi Airport

Satnight @ Changi Airport

Tenang aja, belly. Malam ini in shaa Allah bisa makan enak dan kenyang. Aku tersenyum tenang sambil mengibas-ngibas tiket eTRS (electronicTourist Refund Scheme) di tangan.

Jadi, di Singapura itu, kalau turis belanja barang untuk kebutuhan pribadi (bukan untuk dijual lagi), di toko-toko tertentu minimal $100, bisa dapat pengembalian pajak. Tax free. So, biaya pajak yang termasuk dalam harga barang bisa dikembalikan. Yeaay… Berkah belanja #eeh :p.

Aku dan Cun pun mencari konter eTRS untuk mengambil pengembalian pajak. Lumayan dapat 11 SGD. Cukuplah untuk makan enak malam ini. Lokasinya tak jauh dari loket imigrasi. Berhubung sudah malam, jadi antrian sudah sepi. Kami melenggang cepat ke hadapan petugas dan menunjukkan tiket eTRS tersebut.

Hand-carry goods?” Tanya petugas berwajah India.

“Yes, Sir.”

Oh, please refund in the departure lounge.

“Ya??? Aku denger sih apa kata petugas itu. Cuma shock dan nggak mau percaya aja.

Setelah petugas itu menjelaskan lebih lanjut, aku dan Cun lunglai. Ternyata kalau barangnya nggak masuk bagasi alias hand-carry, ditukernya nanti di dalam departure lounge. Itu, tuh, tempat yang sebelumnya aku idamkan untuk menghabiskan malam ini. Yang fasilitasnya bikin gemes. Yang baru bisa dimasukin abis check-in. (-.-“)

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar

Standard

The gate has closed.

Aku ketinggalan pesawat. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan ingin roboh.

Ini pasti gara-gara keasyikan muter-muter di Ion Orchard. Pake kelamaan pilih jam tangan. Padahal harus balik hostel dulu ambil barang. Ribet ini itu di hostel. Udah mepet tetep nggak mau naik taksi. Biar hemat. Ternyata MRT-nya *&%$#$%%*!$**#@#

Cukup! Cukup! Nggak ada habisnya mengekor penyebab dari semua ini. Aku sedih, kesal, bingung. Tapi berbunga-bunga.

“Nggak bisa di-reschedule, Cin?” Cun, travelmate-ku bertanya.

*Jangan heran kenapa ada Cin dan Cun. Itu panggilan kesayangan. Cin itu panggilanku. Sebenarnya ada satu lagi, Can, tapi kali ini dia absen ikut traveling*

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

“Nggak bisa, harus pesen baru, Cun.” Aku mengelap keringat yang bercucuran di dahi.

Aku dan Cun meluruskan kaki sambil bersandar di salah satu spot terminal 1. Kami kelelahan karena berlari dari MRT station ke counter check in. Lalu kaki kami yang sudah diajak muter-muter Singapura selama 3 hari ini masih belum bisa istirahat. Harus mondar mandir ke terminal 1 dan 2 untuk mengecek penerbangan dari berbagai counter airline. Sambil menggerek koper dan perut lapar. Fyuhh…

“Kalau flight malam ini paling murah 1.5 juta.” Kataku merangkum hasil perbandingan harga.

“Mahal banget. Kemarin kita beli pesawat PP berapa?”

“Lima ratus ribu.” Jawabku.

“Nggak ada yang murah lagi? Biasanya kan ada yang suka promo.”

“Nggak ada Cun. Kalau promo biasanya buat jauh-jauh hari dan via online. Penerbangan terakhir kurang dari 2 jam lagi. Jadi harus beli di counter.”

Ottuke*? Malam semakin larut. Beberapa counter airline sudah tutup. Kami harus segera mengambil keputusan. Mau pulang naik apa.

Read the rest of this entry

Nobita Dan Sebuah Nostalgia

Standard

Nobita-san, you remind me of someone.

Melihatmu di film Doraemon: Stand By Me membuatku senyum-senyum sendiri. Aku jadi teringat pada seseorang. Sama sepertimu, dia benar-benar pemalas. Tidak punya motovasi belajar. Yang ada di pikirannya cuma main saja.

You remind me about someone

You remind me of someone

 

Wajah sih tak mirip. Tak pakai kacamata juga meski hobinya main PS. Nilai-nilainya sedikit lebih baik darimu. Pas-pasan lah. Dia pernah 2 kali masuk 10 besar. Meski menurutnya itu hanya sebuah keberuntungan.  Dia juga pernah iri denganmu yang punya doraemon. Tadinya. Tapi kini dia bersyukur. Karena dia, punya keajaiban lain melebihi Doraemon.

Read the rest of this entry

Dua Mimpi Yang Tertinggal

Standard

Hari itu aku membaca list impianku. Di antara beberapa yang sudah terwujud, ada dua yang tertinggal. Naik pesawat terbang dan pergi ke luar negeri.

Jangankan ke luar negeri, seumur hidup aku belum pernah naik pesawat terbang. Kalau kata Papaku, dari mana mau ke mana naik pesawat? Semua keluargaku berdomisili di Bogor, Jakarta, dan Bandung. Jadi sejauh-jauhnya pulang kampung, ya ke Bandung. Nggak mungkin naik pesawat, kan? Hehe. Selain itu papaku termasuk orang yang menganggap jalan-jalan itu sebuah pemborosan. Jadi, semahal-mahalnya jalan-jalan, ya ke Dufan :D.

Pikirku saat itu, mungkin bila aku kaya raya, aku baru bisa mewujudkannya. Tapi aku tak kunjung jadi jutawan. Berkali-kali ikut undian pun tak pernah beruntung. Akhirnya aku melipat rapi kedua mimpi itu selama sekian tahun. Hingga suatu hari sebuah BBM mendarat di ponselku.

Read the rest of this entry

Mengejar Napas, Menghirup Golden Sunrise

Standard

“Golden Sunrise”

Membaca tulisan itu membuat mataku meleleh. Bukan karena kata-katanya, melainkan foto-foto yang ada di atas tulisan itu.

OH-MYGOD!

Ada ya, sunrise semewah itu? Asli, langit benar-benar bertabur tinta emas yang perlahan menghapus hitamnya malam. Eksotis banget. Dan ternyata itu ada di Indonesia, di Pulau Jawa. Lebih tepatnya di Gunung Sikunir, Dataran Tinggi Dieng. Fotonya aja udah keren, apalagi kalau bisa lihat aslinya. Wooww…

image

The Golden Sunrise (Photo bukan koleksi pribadi)

Read the rest of this entry

Kisah Klasik Pukul 4 Sore

Standard

“Sssst…” Aku berbisik padanya sambil menaruh telunjukku di depan bibir.

“Jangan bilang-bilang kalau aku nangis.” Pintaku padanya, sahabat baruku.

Aku sedang menceritakan rahasiaku padanya. Entah mengapa akhirnya aku memilih dia untuk mencurahkan perasaanku. Mungkin karena aku tak tahan menyimpannya sendiri. Dan aku pun tak mau yang lain tahu perasaanku. Cuma dia saja.

“Dulu aku nggak suka sekolah. Setiap bangun tidur, aku cuma tunggu jam 4 sore. Aku cuma mau main sama mereka.” Sambil menyeka air mataku, aku melanjutkan cerita. Dia masih setia mendengarkan tanpa berkomentar.

Waktu kecil dulu

Waktu kecil dulu

Read the rest of this entry

Awas Salah “Jepret”

Standard
Gagal jepret

Gagal jepret

Jangan bayangkan pemandangan Gardens by The Bay seperti foto di atas. Gelap, suram, buram.

Taman yang belum lama dibuka di Singapura ini sebenarnya terlihat sangat cantik dan eksotis di malam hari. Ada belasan supertree alias pohon raksasa berhias lampu yang berjejer kokoh namun manis. Desain taman begitu apik ditambah dengan penerangan yang sengaja dibuat redup. Taman ini seolah ingin menampilkan kesan pretty in mystery.

Sayangnya yang pegang kameraku nggak cukup pandai untuk mengabadikan keindahannya. Salah setting, sih. Jadilah hasil jepretannya nggak jelas begini.

Ternyata view yang cantik bisa jadi “rusak” gara-gara salah setting kamera. Gimana dengan kehidupan?

Read the rest of this entry

(Bukan) Kerajaan Negeri Dongeng

Standard

Waktu masih kecil, aku kira putri cantik dan pangeran tampan itu cuma ada di negeri dongeng. Putri Salju, Cinderella, Putri Tidur, hingga Putri Duyung. Rasanya sosok seperti itu -yang cantik/tampan, baik, dan pemberani- cuma cerita khayalan belaka.

Hingga suatu hari aku menonton cuplikan video seorang wanita berparas cantik dan bergaun pengantin putih duduk di kereta kuda bersama pangerannya. Bedanya rambutnya pendek nggak seperti putri-putri dalam negeri dongeng yang berambut panjang. Tapi senyumnya begitu manis dan menghangatkan. Senyum yang menggambarkan seorang Putri. Dia adalah Putri Diana, istri Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris.

Sebenarnya berita tentang politik di Inggris tapi ada cuplikan video pernikahan mereka yang disematkan dalam kabar tersebut. Di Video itu, mereka berkeliling sambil melambaikan tangan pada semua orang yang menonton di sisi jalan. Jalanan ramai sekali karena rakyat ingin melihat dan menyapa langsung putri baru mereka. Adegan yang mirip dalam dongeng.

Wow! Jadi putri itu benar-benar ada?

Read the rest of this entry