Category Archives: Traveling

Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final

Standard

Dua wanita itu menatapku dengan heran tepat setelah aku melontarkan sebuah jawaban. Melihat penampilan mereka yang elegan, dengan baju yang pastinya branded, dan kursi jabatan yang mereka duduki saat itu, mereka bukan orang sembarangan. Pasti orang cerdas. Dan tatapan heran itu pasti sangat beralasan.

“Masa kecil mereka itu susah. Kenapa kamu iri sama mereka?” Tanya seorang dari mereka- yang berambut pendek. Aku duga jabatannya lebih tinggi dari wanita yang satunya.

Aku menarik nafas sejenak sambil tetap pada posisiku. Duduk tegap di hadapan mereka dengan tatapan yang tak sekalipun kabur meski sudah dihujam banyak pertanyaan. Di detik itu juga aku mengulas senyum yang diikuti dengan jawaban.

Read the rest of this entry

Advertisements

Mimpi 80 Dollar (Part 2)

Standard

Hampir pukul 10 waktu setempat.  Aku merogoh sisa uang Singapore dollar di saku. Cuma cukup buat beli teh. Ditambah uang dari saku Cun. Ya, cukuplah buat 2 gelas atau 1 porsi nasi lemak. Perut kami langsung rusuh. Mereka mengajukan protes.

Udah, gesek aja. Bayar bulan depan. Bisik-bisik hedonis menyeruak di kepala.

Tidak! Tidak! Aku dan Cun sudah sepakat tidak akan menggesek kartu terbitan bank di dompet. Bukannya sok hemat apalagi pelit sama diri sendiri. Cuma nggak mau lebih menodai rencana awal kami untuk travel hemat. Sambil miris mikirin utang di kartu kredit yang cukup menguras gaji bulan depan.

Satnight @ Changi Airport

Satnight @ Changi Airport

Tenang aja, belly. Malam ini in shaa Allah bisa makan enak dan kenyang. Aku tersenyum tenang sambil mengibas-ngibas tiket eTRS (electronicTourist Refund Scheme) di tangan.

Jadi, di Singapura itu, kalau turis belanja barang untuk kebutuhan pribadi (bukan untuk dijual lagi), di toko-toko tertentu minimal $100, bisa dapat pengembalian pajak. Tax free. So, biaya pajak yang termasuk dalam harga barang bisa dikembalikan. Yeaay… Berkah belanja #eeh :p.

Aku dan Cun pun mencari konter eTRS untuk mengambil pengembalian pajak. Lumayan dapat 11 SGD. Cukuplah untuk makan enak malam ini. Lokasinya tak jauh dari loket imigrasi. Berhubung sudah malam, jadi antrian sudah sepi. Kami melenggang cepat ke hadapan petugas dan menunjukkan tiket eTRS tersebut.

Hand-carry goods?” Tanya petugas berwajah India.

“Yes, Sir.”

Oh, please refund in the departure lounge.

“Ya??? Aku denger sih apa kata petugas itu. Cuma shock dan nggak mau percaya aja.

Setelah petugas itu menjelaskan lebih lanjut, aku dan Cun lunglai. Ternyata kalau barangnya nggak masuk bagasi alias hand-carry, ditukernya nanti di dalam departure lounge. Itu, tuh, tempat yang sebelumnya aku idamkan untuk menghabiskan malam ini. Yang fasilitasnya bikin gemes. Yang baru bisa dimasukin abis check-in. (-.-“)

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar

Standard

The gate has closed.

Aku ketinggalan pesawat. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan ingin roboh.

Ini pasti gara-gara keasyikan muter-muter di Ion Orchard. Pake kelamaan pilih jam tangan. Padahal harus balik hostel dulu ambil barang. Ribet ini itu di hostel. Udah mepet tetep nggak mau naik taksi. Biar hemat. Ternyata MRT-nya *&%$#$%%*!$**#@#

Cukup! Cukup! Nggak ada habisnya mengekor penyebab dari semua ini. Aku sedih, kesal, bingung. Tapi berbunga-bunga.

“Nggak bisa di-reschedule, Cin?” Cun, travelmate-ku bertanya.

*Jangan heran kenapa ada Cin dan Cun. Itu panggilan kesayangan. Cin itu panggilanku. Sebenarnya ada satu lagi, Can, tapi kali ini dia absen ikut traveling*

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

“Nggak bisa, harus pesen baru, Cun.” Aku mengelap keringat yang bercucuran di dahi.

Aku dan Cun meluruskan kaki sambil bersandar di salah satu spot terminal 1. Kami kelelahan karena berlari dari MRT station ke counter check in. Lalu kaki kami yang sudah diajak muter-muter Singapura selama 3 hari ini masih belum bisa istirahat. Harus mondar mandir ke terminal 1 dan 2 untuk mengecek penerbangan dari berbagai counter airline. Sambil menggerek koper dan perut lapar. Fyuhh…

“Kalau flight malam ini paling murah 1.5 juta.” Kataku merangkum hasil perbandingan harga.

“Mahal banget. Kemarin kita beli pesawat PP berapa?”

“Lima ratus ribu.” Jawabku.

“Nggak ada yang murah lagi? Biasanya kan ada yang suka promo.”

“Nggak ada Cun. Kalau promo biasanya buat jauh-jauh hari dan via online. Penerbangan terakhir kurang dari 2 jam lagi. Jadi harus beli di counter.”

Ottuke*? Malam semakin larut. Beberapa counter airline sudah tutup. Kami harus segera mengambil keputusan. Mau pulang naik apa.

Read the rest of this entry

Mengejar Napas, Menghirup Golden Sunrise

Standard

“Golden Sunrise”

Membaca tulisan itu membuat mataku meleleh. Bukan karena kata-katanya, melainkan foto-foto yang ada di atas tulisan itu.

OH-MYGOD!

Ada ya, sunrise semewah itu? Asli, langit benar-benar bertabur tinta emas yang perlahan menghapus hitamnya malam. Eksotis banget. Dan ternyata itu ada di Indonesia, di Pulau Jawa. Lebih tepatnya di Gunung Sikunir, Dataran Tinggi Dieng. Fotonya aja udah keren, apalagi kalau bisa lihat aslinya. Wooww…

image

The Golden Sunrise (Photo bukan koleksi pribadi)

Read the rest of this entry

Awas Salah “Jepret”

Standard
Gagal jepret

Gagal jepret

Jangan bayangkan pemandangan Gardens by The Bay seperti foto di atas. Gelap, suram, buram.

Taman yang belum lama dibuka di Singapura ini sebenarnya terlihat sangat cantik dan eksotis di malam hari. Ada belasan supertree alias pohon raksasa berhias lampu yang berjejer kokoh namun manis. Desain taman begitu apik ditambah dengan penerangan yang sengaja dibuat redup. Taman ini seolah ingin menampilkan kesan pretty in mystery.

Sayangnya yang pegang kameraku nggak cukup pandai untuk mengabadikan keindahannya. Salah setting, sih. Jadilah hasil jepretannya nggak jelas begini.

Ternyata view yang cantik bisa jadi “rusak” gara-gara salah setting kamera. Gimana dengan kehidupan?

Read the rest of this entry

Membangun Twin Towers Sendiri

Standard
Belajar keberanian dari Twins Tower

Belajar keberanian dari Twins Tower

Pernahkah kamu merasa takut bermimpi? Atau merasa tak yakin bisa menggapai mimpimu? Seolah-olah mimpimu berada tinggi di langit. Terasa begitu jauh dari pijakanmu di bumi. Maka lihatlah Petronas Twin Towers ini. Gedung pencakar langit kebanggaan Malaysia yang menarik perhatian banyak turis.

Read the rest of this entry

Kisah PHP Di Boardwalk

Standard

Sore itu aku menunggumu.

Dan seharusnya aku merasa bosan. Tapi sajian pemandangan di hadapanku menjadi hidangan yang lezat untuk mataku.

image

Sajian pemandangan Boardwalk

Bayangkan saja. Aku sedang menginjakkan kakiku di atas jembatan yang meliuk eksotis di antara Harbour Front dan Sentosa Island. Seperti berdiri di atas laut. Ditemani semilir angin hangat dan langit yang mulai sendu melepas kepergian sang surya.

image

Welcome to Sentosa Boardwalk

Aku sedang berada di Sentosa Boardwalk. Sebuah jembatan sepanjang 600 m yang berdiri kokoh di atas laut. Menjadi akses pilihan bagi pengunjung yang ingin menyebrang ke Sentosa Island dengan berjalan kaki.

Aku suka sekali suasana di sini. Duduk di undakan kayu sambil meluruskan kaki. Melepas lelah pada hamparan laut biru tak berombak. Dan menyaksikan beberapa kapal ferry berlalu lalang di sana.

Aah… bila menunggu jadi seindah ini, mungkin menunggu akan kehilangan predikat sebagai aktivitas paling membosankan. Tapi tentu akan lebih indah bila kau muncul menemani.

Hmm… Aku melirik pada jam tanganku. Sudah pukul 7 petang. Langit pun sudah semakin muram. Semuram hatiku yang cemas karena kau tak kunjung muncul.

Ayolaah… aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Lirihku dalam hati.

image

Menunggu Mr. PHP

Read the rest of this entry

Nyasar Ke China

Standard
Pagoda dan para prajuritnya

Pagoda dan para prajuritnya

Sebuah bangunan pagoda yang didominasi warna merah menjulang tinggi di hadapanku. Di depannya, ada undakan tangga yang cukup tinggi yang dijaga patung-patung prajurit. Pemandangan ini mirip seperti yang sering aku lihat di film-film silat.

Olala, ini di Cina?

Asli keren banget, ya! Padahal tadi aku landing di bandara Changi Singapura. Setelah drop koper di hostel, Aku langsung berkelana naik MRT kesana-kemari, menempuh jarak yang cukup jauh. Dan tibalah aku di sini.

Ni hao ma. Wo zai zhongguo xianzai

(Hello, aku sedang di Cina sekarang)

Read the rest of this entry

Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.
Read the rest of this entry

Lambaian Tangan Di KM 26

Standard

Tak…tak…tak..

Seperti ada tabuhan drum yang menemani perjalananku dan temanku ke bandara Soetta pagi itu. Terdengar jelas dari sisi pintu kiri. Sebenarnya aku merasa aneh. Namun ku pikir body taksi yang kutumpangi mungkin sudah agak renta sehingga menimbulkan suara seperti itu.

Bismillah saja, toh sebentar lagi sampai bandara. Gumanku dalam hati.

Namun tak lama, Pak Supir malah menghentikan taksinya di KM 26. Lalu ia keluar dan mengecek ke semua sisi ban. Sambil garuk-garuk kepala, wajahnya terlihat bingung.

“Mba, saya ganti ban dulu ya”, ucapnya pada kami.

Gawat! Ban taksi kempes!

Aku pun langsung melirik jam. Pukul 5.45.

Oalaa,,, pesawatku boarding jam 6.30. Hatiku mulai cemas. Terbayang bila nanti harus berlari ke sana- kemari mencari konter check-in. Belum lagi harus mengantri di imigrasi. Bisa-bisa nggak sempat!

Aku dan temanku pun keluar taksi dan mengecek kondisi ban.

Parah! Hancur banget. Sementara aku lihat di bagasi tak ada ban serep. Mau diganti pakai apa?

Pak Supir masih upaya mengecek-ngecek ban. Walau rasanya aku menangkap raut tak paham di wajahnya. Lalu ia menelpon pool taksi meminta bantuan armada baru. Tapi siapa yang mau menjemput kami di tol Bandara KM 26? Sudah sebentar lagi sampai Soetta. Tapi kalau jalan tentu masih jauh. Aku coba telpon pun mereka bilang armada mereka penuh.

Jejak di KM 26

Jejak di KM 26

15 menit sudah kami terdampar di sana. Ditemani semilir udara dingin dihiasi langit mendung yang siap menangis. Seperti hatiku juga yang bisa menangis jika tak kunjung beranjak dari sana. Sementara mobil-mobil berlalu cepat begitu saja. Tak satupun menoleh, meminggirkan diri untuk menolong kami.

Aaah… Pertolongan itu harus dijemput!

Aku melempar lirikan pada temanku. Seolah memberi kode untuk melakukan hal “gila” yang belum pernah kami lakukan selama ini. Cuma menonton di film-film. Cuma terlintas dalam batas khayalan.

Read the rest of this entry