Category Archives: Traveling

Geoje Island Korea: Ditampar Dan Dimanja

Standard

Rasanya seperti ditinggal pergi saat lagi sayang-sayangnya.

Kurang lebih seperti itu rasanya waktu supir bus tiba-tiba meminta aku dan temanku untuk turun dari busnya. Padahal kami belum sampai tujuan. Dan nggak tahu ini ada dimana. Kami cuma tahu ini daerah yang penduduknya minim. Saking minimnya, kami tak lihat ada orang lalu lalang di tempat kami turun.

Cerita ini dimulai sekitar 6 jam yang lalu, saat kami putuskan untuk pergi subuh-subuh dari penginapan. Langit masih gelap hari itu. Tapi sudah ada dua orang cewek lari-lari menyusuri tangga demi tangga subway nan panjang tak berujung. Jangan berpikir dua cewek itu sedang kabur dari penginapan karena nggak mau bayar ya. Bukan!

Ini ceritanya, kami sedang mengejar bus pertama yang akan berangkat ke Gohyeon, Geoje. Jadwalnya jam 6.40. Sementara kami baru aja sampai stasiun subway Nambu. Ada sisa waktu 10 menit lagi untuk mengejar bus. Tapi terminalnya ada di atas. Sekian lantai jaraknya dari sini. Tak ada lift yang terlihat. Jadi harus banget lari untuk mengejar jodoh waktu. Kalau nggak, kami harus nunggu hampir 1 jam lagi untuk next busnya. Oh, noooo… Bisa makin siang sampai ke sana.

Sebagai atlet lari 7-keliling-lapangan-bola-waktu-SMA, aku merasa yakin bisa mengejar. Meski heran kenapa rasanya ngos-ngosan banget mendaki anak-anak tangga ini. Sempat berpikir, mungkin karena belum sarapan. Tapi akhirnya ku sadar, ku sudah lama sekali lulus SMA dan nggak pernah lari keliling lapangan lagi sejak itu >.<.

Meski sudah mantan, mantan “atlet” maksudnya, alhamdulillah berhasil juga “manjat” dari subway ke terminal dalam waktu kurang dari 5 menit (Boleh bangga, nggak? :D). Pas lihat busnya masih nangkring di sana, buru-buru aja kami mau naik. Sampai ada ahjussi yang tanya tiketnya mana. Ya ampun, emang bus kopaja main naik aja. Kami sempat panik cari-cari loket tiketnya. Alhamdulillah ketemu juga. Bahagia banget rasanya sampai lupa baru aja “dirampok” 34,200 KRW (sekitar 450ribu rupiah) di loket bus (ㅠㅠ).

Drama pagi demi sepucuk tiket

Busnya cozy

Dengan sisa nafas yang kembali terisi bahagia, kami pun melenggang masuk ke dalam bus. Kami pun berjumpa dengan deretan kursi coklat-teracota yang terlihat sangat cozy. Begitu kami coba, ternyata kursinya empuk. Space-nya juga luas untuk bisa selonjoram. Kami pilih kursi di baris kedua supaya tetap bisa lihat pemandangan dari kaca depan. (Pas perjalanan pulang, baru ngeh di tiketnya sebenarnya ada nomor kursi. Untung tempat yang kami duduki nggak ada yang punya =D).

Tepat jam 6.40 waktu korea, nggak kurang sedetik pun, nggak juga nunggu penumpang full, bus pun mulai jalanin aja dulu. Ya Allah leganya alhamdulillah… 

Hari masih pagi. Dan ada kursi yang nyaman bangeed,, enaknya tidur nih. Perjalanannya akan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Eh, 2 jam. Eh, nggak tau mana yang bener infonya. Tadi nggak sempat nanya. Paling lama kalau macet, 3 jam lah ya, udah sampai di sana. Jadi mari kita bobo.

Hampir 15 menit coba merem-meremin mata, tapi nggak bisa tidur. Aku paling susah tidur di jalan dalam kondisi super-excited kayak gini. So, mari lihat-lihat jalan aja karena temenku udah terlelap dalam mimpinya haha. Sambil cerita sedikit tentang lokasi tujuan kami ya.

Pemandangan sepanjang jalan

Jadi kami itu mau ke Geoje. Pulau kedua terluas setelah Jeju. Pulau yang dikenal dengan lautnya. Pulau dimana pabrik Samsung berdiri. Di sana ada satu destinasi yang menggoda banget untuk dikunjungin. Namanya Windy Hill. Bukit berangin yang ada kincir anginnya. Kebayang nggak? Di atas bukit, ada kincir angin, tapi di bawahnya dikelilingin laut. Cantik kan? 

Bayangin nanti bisa piknik di atas bukit. Menghamparkan kain yang sengaja sudah kami bawa, duduk di atas bukit memandangi laut sambil makan siang. Pasti seru!

Dan ada satu lagi juga namanya Pulau Oedo. Di sana ada Botanical garden. Dari si Windy Hill tinggal menyebrang beberapa menit melewati tebing besar di laut. Gimana nggak excited menanti tiba di sana.

Untuk sampai ke Geoje ini, nggak seperti ke Jeju yang harus naik pesawat. Dari Seoul bisa naik bus dengan tujuan Gohyeon. Naiknya dari Nambu Terminal Bus. Karena sudah ada jembatan penghubung laut di antara aku dan kamu Seoul dan Geoje.

Tapi ngomong-ngomong, ini udah 2 jam kok belum sampai, ya? Mungkin beneran 3 jam ya?

Lalu si Bus pun akhirnya berhenti di jam 9 kurang dikit. Bukan sampai Geoje. Tapi ternyata ini tempat peristirahatan. Penasaran dan ingin ke toilet juga, Aku sama temenku, yang akhirnya bangun juga =D, turun dari bus. Ternyata toiletnya ya ampuun guede dan bagus bangeet. Nyaman bangeet. Di sekitar area istirahat juga bisa lihat-lihat view. Cuma sayang di lokasi ini nggak nemu makanan halal.

Toilet kece di rest area

Karena kami nggak suka bikin orang lain menunggu, (baca: takut ditinggal), jadi kami putuskan untuk segera balik ke bus. Oh, ya, penting banget hapalin kode dan ciri busnya biar nggak salah naik. Meski akhirnya kami terharu banget ternyata supirnya perhatian sekali sama kami dan penumpang lainnya karena sebelum jalan lagi, dia cek masing-masing kursi. Memastikan tidak ada yang tertinggal. So sweet ya… :p

Akhirnya setelah kira-kira 15 menit istirahat, busnya jalan lagi. Aku prediksi bus ini akan sampai sejam lagi. Tapi ternyata sampai 90 menit berlalu, bus ini belum sampai juga. Ya ampuun,, udah coba merem, bangun lagi, merem lagi, bangun lagi. Busnya belum sampai-sampai =D. Untungnya pemandangan di jalan baguuus. Jadi ada hiburan hihihi.

Di atas laut 😍

Tepat jam 11.10, atau dengan kata lain setelah 4 jam 30 menit, akhirnya sampai juga di Gohyeon \(*.*)/ Alhamdulillah.  Dari terminal Gohyeon ini nggak langsung sampai Windy Hill. Kami harus naik bus dulu ke sana. Katanya naik bus no. 55 atau 56. Dan katanya (lagi) perjalanannya sekitar 1 jam. “Katanya” ini adalah info yang aku dapat dari hasil browsing di internet ya. Jadi, mari kita buktikan lagi kebenarannya, setelah yang sebelumnya salah :D.

Terminal bus Gohyeon tertata rapi sekali. Semua bus masuk di area yang sudah ditentukan. Tidak ada istilah ngetem. Bus masuk, tak berapa lama berangkat lagi. Benar-benar ontime. Bahkan ada satu penumpang yang baru aja datang pas bus tutup pintu. Meski memohon-mohon, bus tetap aja jalan. 

Karena segitu disiplinnya, penumpang harus banget cek jadwal bus yang ada di monitor. Supaya nggak ditinggal. Dan di  terminal bus ini kami menunggu sekitar hampir 30 menit sambil diajak ngobrol sama beberapa halmoenni aka nenek-nenek. Tapi mohon maaf ya Nek, aku nggak paham (ㅠㅠ). Padahal mereka udah ramah banget loh. Next time coba belajar lagi biar bisa ngobrol. 

Sampai akhirnya muncullah si bus no. 56 itu. Kalau naik bus dalam kota nggak perlu beli tiket dulu. Cukup tap aja pakai T-money. Tarifnya sekitar 1,300 KRW (Rp. 17,000). 

Sejujurnya, masih trauma dibohongin sama “katanya”. Jadi kami pun coba cek di map, berapa lama perjalanan yang dibutuhkan. Map yang ku maksud ini cuma nunjukin titik kita berada ya. Bukan navigasi seperti yang biasa kita andalkan kalau di Indo. (Baca lengkap tentang Google Map di Korea di sini

Eh, masa katanya 1,5 jam. Lama bangeet wkwk. Dan ngomong-ngomong, kami tuh nggak tau loh harus turun di halte apa. Patokan kami, kalau udah ketemu pantai atau laut, berarti udah dekat. Tapi supaya lebih yakin, kami coba tanya sama seorang remaja yang berdiri di samping kursi kami. Dan setelah bolak-balikin HP karena ngobrol via google translate, akhirnya dia kasih tau kalau kami bisa turun di halte Dojo (Dojangpo). Oke, noted.

“*&%&#*#*@@(&#*@)@&”

Kalian ngerti nggak itu ngomong apa? Nggak ya? Samaa dong =D.

Itu bahasa yang kami dengar dari suara Mbak announcer di bus. Nggak seperti di Seoul, kalau di kota-kota lain di Korea, pemberitahuan bus stop nggak ada yang pakai bahasa inggris. Jadi coba dengarkanlah dengan seksama. Biasanya awalnya si Mbak announcer itu akan bilang jigeum yang artinya sekarang. Habis itu, baru deh kedengeran nama haltenya. Dan dengan modal map juga, kami coba memastikan nggak kelewatan.

Setelah kurang lebih 30 menit, bus mulai masuk ke daerah semacam pedesaan. Seperti layaknya pedesaan di Indonesia yang kiri-kanannya masih hijau. Jarak dari satu rumah ke rumah lainnya juga berjauhan. Lokasi ini memang rasanya lebih sepi dan tenang daripada di Seoul. Mungkin ini seperti tempat para pensiunan ya? Karena sedari tadi di terminal, dan melihat penumpang yang naik kebanyakan para orang tua. Apalagi setelah masuk kawasan kiri-kanan hijau ini, rasa-rasanya cuma kami berdua yang rambutnya masih hitam.

Rasanya tenang ya kalau membiarkan orangtua kita atau nenek kita kemana-mana sendirian kalau busnya semacam ini. Bersih, nyaman, dan supirnya pun nggak ugal-ugalan. Nggak ada kejadian penumpang mau jatuh karena bus udah tancap gas sebelum pada duduk. 

Nah berhubung penumpangnya orang tua semua, kita tahu dirilah untuk mengalah duduk :D. 

Lama-lama, bus ini mulai meliuk liuk naik… naik… ke puncak gunung, tinggi… tinggi… sekali.

Kiri, kanan, kulihat saja, banyak sawah dan….

Pantai?

Wah, setelah di bus hanya menyisakan kami berdua, akhirnya kami bertemu pantai. Berarti sudah dekat dengan Windy Hill. Iyeaay… Tapi kemudian setelah lewat sekitar 1km, bus kami berhenti. Katanya rutenya cuma sampai di sini.

WHAT????

Iki piye? Kalau di map, tujuan kami tinggal 15 menit lagi dari sini. Kami coba tanya sambil setengah merayu supirnya untuk antar ke tempat kami. Tapi supirnya nggak mempan dirayu. Kami tetap diturunkan di dekat pantai Hakdong. Nun sepi inih.

Krik… Krikk…

Help (ㅠㅠ)

Kita mau tanya sama siapa yaa??? Apa harus naik taksi ya dari sini? Kalau kata si “katanya”, busnya sampai ke halte dekat Windy Hill kok. Tinggal jalan kaki. Tapi kalau dari tempat ini, jalan kaki bisa sekitar 1 jam. Dan ini ada di jalanan tanpa trotoar gitu. Meliuk-liuk. Yang bener ajah…

Akhirnya kami tanya sama penjaga mini market. Dalam bahasa yang terbatas, dia jelaskan katanya nggak ada taksi yang kesana karena anginnya kencang (ㅜㅜ).

Sedih nggak sih?

Udah melewati perjalanan 6 jam, masa berakhir di tengah jalan ini? Apa beneran anginnya lagi kencang jadi nggak bisa dikunjungi? Banyak pikiran berseliweran di kepala. Tapi kami tetap belum memutuskan untuk menyerah. 

Kalau dari info jadwal bus di halte, katanya ada bus no. 55 yang akan lewat sekitar setengah jam lagi. Tapi kami sudah makin ragu sama si “katanya”. Jangan-jangan bus itu juga cuma sampai sini aja karena angin kencang di Windy Hill.

Kami cuma berharap ada taksi yang lewat. Sampai akhirnya harapan kami benar-benar dikabulkan. Ada satu taksi yang lewat. Dan saat diminta antar ke Windy Hill, ternyata supirnya mau. Waaaa… bahagiaaaa….

Selama di perjalanan, supir taksi berusia paruh baya itu banyak cerita tentang Windy Hill. Meski bahasanya kebanyakan kami nggak paham, karena pakai bahasa Oppa. Tapi intinya, dia cerita tentang Windy Hill yang bagus dan dia bilang ke sini tuh bisa naik bus. Nanti berhentinya bener di halte Dojangpo (도장포). Tapi busnya no. 55.

Iya, jadi inget ya, busnya no. 55. Turunnya di halte bus terakhir, Dojangpo. Karena kalau no. 56 cuma sampai pantai aja.

Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga. Dan ternyata banyak kendaraan di parkiran. Jadi masih nggak mudeng kenapa Mbak mini market bilang angin kencang jadi nggak ada yang kesana. Apa kami salah dengar ya? Ah, sudahlah, kami mau bersyukur aja bisa sampai juga setelah perjalanan 6 jam lebih. Fyuhh…

Dari parkiran, kincirnya udah keliatan ㄷㄷ

Plak!

Baru aja turun dari taksi, langsung serasa ada yang nampar. Ya ampun, ini anginnya toh. Kenceng banget. Apalagi semakin jalan mendekati laut. Kami mulai disibukkan untuk merapikan jilbab yang digoda angin. 

Dari parkiran ke dermaga, ada beberapa restoran dan juga toko oleh-oleh. Hati-hati! Toko oleh-olehnya bikin kabita. Karena mereka menjual merchandise Geoje. Karena merasa perjalanan udah jauh banget, jadi sayang dong nggak beli kenang-kenangan? 😂. Kalau restorannya sih nggak bikin kabita. Soalnya nggak ada tulisan halalnya. 

Dari tempat oleh-oleh, kami sempat cek dimana kapal menuju pulau Oedo. Tapi karena sudah siang dan gelombang laut juga bikin agak takut nyebrang, jadi kami putuskan nggak ke sana. Kami langsung naik menuju Windy Hill. Masuk ke Windy Hill ini cuma bayar pakai kesabaran aja menempuh perjalanan jauh. Alias tiketnya gratis hehe.

Tangga menuju Windy Hill

Sepanjang jalan menuju Windy Hill. MasyaAllah

Satu per satu anak tangga kami lewati. Tiap langkah rasanya nggak berhenti bilang MasyaAllah… Mau lirik ke kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah. Semua pemandangannya memanjakan mata. Cantiiik sekali. Ya Allah sungguh nggak kebayang seindah apa surgaMu, jika di dunia saja ciptaanMu seindah ini.

Meski naik ke Windy Hill agak tinggi juga, tapi nggak terasa capek. Karena sibuk mengagumi keindahan hamparan laut di antara bukit ini. Palingan sambil sibuk pegangin barang-barang dan kerudung yang sering mau lari. Pastikan pakai baju yang nyaman dan kerudung yang nggak gampang menyerah tertiup angin. Karena bukan kenceng lagi. Tapi super kuenceeng. Apalagi pas sampai di kincir anginnya. 

Sepertinya bukit ini jadi tempat konser para angin. Mereka joget-joget penuh energi sampai semua yang menempel dibadan mendadak mau kabur. Dan suara anginnya bikin kami gagal jadi traveler kalem. Karena jadi harus teriak-teriak kalau ngobrol 😅.

Lihatlah baju kita beterbangan 😅

Pemandangan dari puncak atas makin luar biasa keren. MasyaAllah. Karena saat itu masih awal musim gugur, jadi rumput-rumput di bukit masih hijau. Ditambah sebuah kincir angin yang berdiri gagah. Dan hamparan laut biru di hadapan. Bener-bener bikin nggak mau pulang. Sungguh perjalanan panjang tadi terbayar dengan ini semua. Kami sibuk foto-foto, lalu duduk sejenak menikmati pemandangan. Lalu pindah spot, foto-foto, lalu duduk lagi. Aah,, meski ditampar-tampar angin, mata kami tetap termanjakan.

Kincirnya Windy Hill

Nah, sekarang tiba waktunya buat makan. Late lunch banget nih. Tapi gimana mau menghamparkan kain? Pakaian yang menyangkut di badan aja sibuk ditarik-tarik sama angin =D. Yah, khayalan piknik kalem nggak kesampaian. Tapi kami tetap makan siang di atas bukit kok. Meski ternyata nggak tenang juga. Karena kaki kiri-kanan sibuk jagain barang-barang supaya nggak terbang. Dan kedua tangan nggak kalah sibuknya jagain makanan. Masalahnya bekal kami itu nasi, abon, ikan kering, dan rumput laut. Semuanya mudah sekali dibawa angin. Buktinya selembar rumput lautku berhasil direbut =D.

Bekal super hemat tapi halal

Buat muslim, aku saranin banget bawa bekal. Karena tempat makan yang ada di dekat parkiran itu nggak ada yang halal. Plus, jangan lupa juga bawa koran karena nggak ada tempat shalat. Jadi kita shalatnya di tempat yang kira-kira nyaman, nggak dilewatin orang-orang, dan yang pastinya “agak” aman dari terjangan angin =D. Kalau aku shalat di bawah tangga gitu dekat dermaga. Lumayan anginnya nggak segalak di atas.  Ambil wudhunya bisa di toilet.

Shalat di bawah tangga

Hari sudah mulai sore. Mengingat perjalanan yang panjang, nggak jadi deh mau coba-coba nunggu sunset di sini. Kami putuskan untuk pulang. Nggak sempat eksplor pantai juga. Takut terlalu malam sampai di Seoul. Lalu kami pun berjalan melewati parkiran. Mencari halte bus yang sempat ditunjuk supir taksi sebelumnya.

Eh, tapi itu dimana ya? Kok kayaknya haltenya di atas sana? 😅. Nggak mungkin lewat jalan raya, kan nggak ada trotoar. Akhirnya setelah tanya penjaga resto, ditunjuki lah kalau kami harus lewat tangga di sebelah restonya. Menyusuri jalanan yang kok agak seram ya hihi. Gelap dan sepi gitu. Kiri-kanan pohon. Begitu ketemu persimpangan, kami bingung. Dan ujung-ujungnya kami bertemu lagi dengan jalan raya. Haltenya masih di atas.

Karena dari tadi jalan jarang nemu orang, jadi pas lihat ada Oppa-oppa yang lagi nurunin barang dari mobil tuh girang banget. Kami langsung tanya-tanya. Dia bilang intinya kalau mau ke halte nggak boleh lewat jalan raya. Ya iyalah, boleh numpang mobilnya aja nggak sih? Udah hopeless cari jalan.

Kadang tuh, yang namanya harapan, kalau sungguh-sungguh, suka jadi doa yang terkabul loh. Oppa-nya beneran mau anterin kita ke halte. Padahal cuma minta dalam hati loh. Ah, pengertian. Yeaaay…. Alhamdulillah hehe.

Oppa penyelamat 😇

Tibalah kami di halte bus. Dari halte bus ini, kalau dari yang aku pelajari, sepertinya sepertinya ada jalan yang tembus langsung ke atas bukit. Jadi jangan turun lewat parkiran kalau mau ke halte bus.

Menunggu bus no. 55 juga harus sabar. Intervalnya 1 jam sekali. Tenang aja, ada jadwalnya di halte. Dan bus di sini kan on time. Ini bukan “katanya” ya. Tapi udah kami buktikan sendiri hehe.

Halte bus Dojangpo (도장포) ada kacanya nggak seperti halte lainnya

Jalan menuju Windy Hill dari halte (panah merah)

Windy Hill sudah terlihat dari halte

Pas perjalanan ke terminal Gohyeon ini, mulai lah banyak anak sekolah yang naik. Sepertinya pas jam pulang sekolah. Jadi tempat ini buka desa pensiunan ya ternyata? Hehe. Masih ada yang muda-muda juga. Lucunya, kalau pas berangkat serasa paling muda di bus. Sekarang serasa paling tua =D.

Mereka naik berbondong-bondong bareng teman. Mengobrol, bercanda di bus. Jadi inget pas jaman masih jadi atlet lari-7-keliling-lapangan-pas-SMA juga begitu kalau pas pulang sekolah. Ramean sama temen. Gaya para remaja di Geoje pun sama dengan gayaku dulu pas jaman atlet lari-7-keliling… (sudahlah kepanjangan). Gayanya lebih simpel dan sederhana. Agak beda dengan gaya anak-anak di Seoul yang lebih fashionable. 

Setelah ditemani kenangan masa remaja, akhirnya sampai juga di terminal Gohyeon. Sayang juga ya, nggak sempat eksplor banyak di Geoje. Karena perjalanannya yang cukup jauh dari Seoul. Saranku kalau mau, menginaplah di sini semalam. Alternatif lain, bisa ambil bus malam dari Seoul. Sekitar jam 12 malam jalannya. Jadi sampai sini masih pagi. Atau bisa juga kalau kalian berniat mengunjungi Busan, dari Busan ke Gohyeon cuma sejam. Lebih pendek perjalanannya. Jadi bisa sekalian main ke pantainya yang dipenuhi batu-batu kecil, bukan pasir.

Kami nggak ada plan menginap. Jadi perjalanan dilanjutkan ke Seoul. Kali ini perjalanan ditemani kenangan indah di Windy Hill dan lelah yang akhirnya berhasil membuatku tertidur selama perjalanan. Yesss :D.

Sekian dulu ya,, Ku sambung lagi kisah lainnya di lain waktu. InsyaAllah ^^

 Kamsahamnidaaaa…

Advertisements

Mimpi 80 Dollar (Part 3) – Final

Standard

Dua wanita itu menatapku dengan heran tepat setelah aku melontarkan sebuah jawaban. Melihat penampilan mereka yang elegan, dengan baju yang pastinya branded, dan kursi jabatan yang mereka duduki saat itu, mereka bukan orang sembarangan. Pasti orang cerdas. Dan tatapan heran itu pasti sangat beralasan.

“Masa kecil mereka itu susah. Kenapa kamu iri sama mereka?” Tanya seorang dari mereka- yang berambut pendek. Aku duga jabatannya lebih tinggi dari wanita yang satunya.

Aku menarik nafas sejenak sambil tetap pada posisiku. Duduk tegap di hadapan mereka dengan tatapan yang tak sekalipun kabur meski sudah dihujam banyak pertanyaan. Di detik itu juga aku mengulas senyum yang diikuti dengan jawaban.

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar (Part 2)

Standard

Hampir pukul 10 waktu setempat.  Aku merogoh sisa uang Singapore dollar di saku. Cuma cukup buat beli teh. Ditambah uang dari saku Cun. Ya, cukuplah buat 2 gelas atau 1 porsi nasi lemak. Perut kami langsung rusuh. Mereka mengajukan protes.

Udah, gesek aja. Bayar bulan depan. Bisik-bisik hedonis menyeruak di kepala.

Tidak! Tidak! Aku dan Cun sudah sepakat tidak akan menggesek kartu terbitan bank di dompet. Bukannya sok hemat apalagi pelit sama diri sendiri. Cuma nggak mau lebih menodai rencana awal kami untuk travel hemat. Sambil miris mikirin utang di kartu kredit yang cukup menguras gaji bulan depan.

Satnight @ Changi Airport

Satnight @ Changi Airport

Tenang aja, belly. Malam ini in shaa Allah bisa makan enak dan kenyang. Aku tersenyum tenang sambil mengibas-ngibas tiket eTRS (electronicTourist Refund Scheme) di tangan.

Jadi, di Singapura itu, kalau turis belanja barang untuk kebutuhan pribadi (bukan untuk dijual lagi), di toko-toko tertentu minimal $100, bisa dapat pengembalian pajak. Tax free. So, biaya pajak yang termasuk dalam harga barang bisa dikembalikan. Yeaay… Berkah belanja #eeh :p.

Aku dan Cun pun mencari konter eTRS untuk mengambil pengembalian pajak. Lumayan dapat 11 SGD. Cukuplah untuk makan enak malam ini. Lokasinya tak jauh dari loket imigrasi. Berhubung sudah malam, jadi antrian sudah sepi. Kami melenggang cepat ke hadapan petugas dan menunjukkan tiket eTRS tersebut.

Hand-carry goods?” Tanya petugas berwajah India.

“Yes, Sir.”

Oh, please refund in the departure lounge.

“Ya??? Aku denger sih apa kata petugas itu. Cuma shock dan nggak mau percaya aja.

Setelah petugas itu menjelaskan lebih lanjut, aku dan Cun lunglai. Ternyata kalau barangnya nggak masuk bagasi alias hand-carry, ditukernya nanti di dalam departure lounge. Itu, tuh, tempat yang sebelumnya aku idamkan untuk menghabiskan malam ini. Yang fasilitasnya bikin gemes. Yang baru bisa dimasukin abis check-in. (-.-“)

Read the rest of this entry

Mimpi 80 Dollar

Standard

The gate has closed.

Aku ketinggalan pesawat. Rasanya sekujur tubuhku lemas dan ingin roboh.

Ini pasti gara-gara keasyikan muter-muter di Ion Orchard. Pake kelamaan pilih jam tangan. Padahal harus balik hostel dulu ambil barang. Ribet ini itu di hostel. Udah mepet tetep nggak mau naik taksi. Biar hemat. Ternyata MRT-nya *&%$#$%%*!$**#@#

Cukup! Cukup! Nggak ada habisnya mengekor penyebab dari semua ini. Aku sedih, kesal, bingung. Tapi berbunga-bunga.

“Nggak bisa di-reschedule, Cin?” Cun, travelmate-ku bertanya.

*Jangan heran kenapa ada Cin dan Cun. Itu panggilan kesayangan. Cin itu panggilanku. Sebenarnya ada satu lagi, Can, tapi kali ini dia absen ikut traveling*

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

Spot meluruskan kaki sambil mengatur rencana

“Nggak bisa, harus pesen baru, Cun.” Aku mengelap keringat yang bercucuran di dahi.

Aku dan Cun meluruskan kaki sambil bersandar di salah satu spot terminal 1. Kami kelelahan karena berlari dari MRT station ke counter check in. Lalu kaki kami yang sudah diajak muter-muter Singapura selama 3 hari ini masih belum bisa istirahat. Harus mondar mandir ke terminal 1 dan 2 untuk mengecek penerbangan dari berbagai counter airline. Sambil menggerek koper dan perut lapar. Fyuhh…

“Kalau flight malam ini paling murah 1.5 juta.” Kataku merangkum hasil perbandingan harga.

“Mahal banget. Kemarin kita beli pesawat PP berapa?”

“Lima ratus ribu.” Jawabku.

“Nggak ada yang murah lagi? Biasanya kan ada yang suka promo.”

“Nggak ada Cun. Kalau promo biasanya buat jauh-jauh hari dan via online. Penerbangan terakhir kurang dari 2 jam lagi. Jadi harus beli di counter.”

Ottuke*? Malam semakin larut. Beberapa counter airline sudah tutup. Kami harus segera mengambil keputusan. Mau pulang naik apa.

Read the rest of this entry

Mengejar Napas, Menghirup Golden Sunrise

Standard

“Golden Sunrise”

Membaca tulisan itu membuat mataku meleleh. Bukan karena kata-katanya, melainkan foto-foto yang ada di atas tulisan itu.

OH-MYGOD!

Ada ya, sunrise semewah itu? Asli, langit benar-benar bertabur tinta emas yang perlahan menghapus hitamnya malam. Eksotis banget. Dan ternyata itu ada di Indonesia, di Pulau Jawa. Lebih tepatnya di Gunung Sikunir, Dataran Tinggi Dieng. Fotonya aja udah keren, apalagi kalau bisa lihat aslinya. Wooww…

image

The Golden Sunrise (Photo bukan koleksi pribadi)

Read the rest of this entry

Awas Salah “Jepret”

Standard
Gagal jepret

Gagal jepret

Jangan bayangkan pemandangan Gardens by The Bay seperti foto di atas. Gelap, suram, buram.

Taman yang belum lama dibuka di Singapura ini sebenarnya terlihat sangat cantik dan eksotis di malam hari. Ada belasan supertree alias pohon raksasa berhias lampu yang berjejer kokoh namun manis. Desain taman begitu apik ditambah dengan penerangan yang sengaja dibuat redup. Taman ini seolah ingin menampilkan kesan pretty in mystery.

Sayangnya yang pegang kameraku nggak cukup pandai untuk mengabadikan keindahannya. Salah setting, sih. Jadilah hasil jepretannya nggak jelas begini.

Ternyata view yang cantik bisa jadi “rusak” gara-gara salah setting kamera. Gimana dengan kehidupan?

Read the rest of this entry

Membangun Twin Towers Sendiri

Standard
Belajar keberanian dari Twins Tower

Belajar keberanian dari Twins Tower

Pernahkah kamu merasa takut bermimpi? Atau merasa tak yakin bisa menggapai mimpimu? Seolah-olah mimpimu berada tinggi di langit. Terasa begitu jauh dari pijakanmu di bumi. Maka lihatlah Petronas Twin Towers ini. Gedung pencakar langit kebanggaan Malaysia yang menarik perhatian banyak turis.

Read the rest of this entry

Kisah PHP Di Boardwalk

Standard

Sore itu aku menunggumu.

Dan seharusnya aku merasa bosan. Tapi sajian pemandangan di hadapanku menjadi hidangan yang lezat untuk mataku.

image

Sajian pemandangan Boardwalk

Bayangkan saja. Aku sedang menginjakkan kakiku di atas jembatan yang meliuk eksotis di antara Harbour Front dan Sentosa Island. Seperti berdiri di atas laut. Ditemani semilir angin hangat dan langit yang mulai sendu melepas kepergian sang surya.

image

Welcome to Sentosa Boardwalk

Aku sedang berada di Sentosa Boardwalk. Sebuah jembatan sepanjang 600 m yang berdiri kokoh di atas laut. Menjadi akses pilihan bagi pengunjung yang ingin menyebrang ke Sentosa Island dengan berjalan kaki.

Aku suka sekali suasana di sini. Duduk di undakan kayu sambil meluruskan kaki. Melepas lelah pada hamparan laut biru tak berombak. Dan menyaksikan beberapa kapal ferry berlalu lalang di sana.

Aah… bila menunggu jadi seindah ini, mungkin menunggu akan kehilangan predikat sebagai aktivitas paling membosankan. Tapi tentu akan lebih indah bila kau muncul menemani.

Hmm… Aku melirik pada jam tanganku. Sudah pukul 7 petang. Langit pun sudah semakin muram. Semuram hatiku yang cemas karena kau tak kunjung muncul.

Ayolaah… aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Lirihku dalam hati.

image

Menunggu Mr. PHP

Read the rest of this entry

Nyasar Ke China

Standard
Pagoda dan para prajuritnya

Pagoda dan para prajuritnya

Sebuah bangunan pagoda yang didominasi warna merah menjulang tinggi di hadapanku. Di depannya, ada undakan tangga yang cukup tinggi yang dijaga patung-patung prajurit. Pemandangan ini mirip seperti yang sering aku lihat di film-film silat.

Olala, ini di Cina?

Asli keren banget, ya! Padahal tadi aku landing di bandara Changi Singapura. Setelah drop koper di hostel, Aku langsung berkelana naik MRT kesana-kemari, menempuh jarak yang cukup jauh. Dan tibalah aku di sini.

Ni hao ma. Wo zai zhongguo xianzai

(Hello, aku sedang di Cina sekarang)

Read the rest of this entry

Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.
Read the rest of this entry