6 Gratisan Di Singapura

Standard

Singapura itu meski terkenal sebagai negara “mahal”, sebenarnya bisa jadi alternatif liburan murah. Selain banyak tiket pesawat yang murah, di sana pun banyak hal gratis yang bisa kita nikmati. Simak contekannya: Read the rest of this entry

Advertisements

Berandal Di Balik Jemari

Standard

Gelap

Aku tak bisa melihat apa-apa. Hanya suara teriakan dan bunyi benturan yang kudengar.

“Hiaaat!”
“Aaaa…!”
Buk…buk!
Kreek!

Suara-suara yang terdengar menyeramkan. Rasanya aku ingin tetap bersembunyi di balik kedua telapak tanganku. Tapi aku penasaran ingin melihat apa yang sedang terjadi.

Aku membuka sedikit celah di antara jemariku lalu coba mengintip.

Ada sebuah kepala terbentur ke kloset dan seketika muncullah muncratan darah dari mulutnya. Mulut dan matanya terngaga.

Ouch!

Read the rest of this entry

Membangun Twin Towers Sendiri

Standard
Belajar keberanian dari Twins Tower

Belajar keberanian dari Twins Tower

Pernahkah kamu merasa takut bermimpi? Atau merasa tak yakin bisa menggapai mimpimu? Seolah-olah mimpimu berada tinggi di langit. Terasa begitu jauh dari pijakanmu di bumi. Maka lihatlah Petronas Twin Towers ini. Gedung pencakar langit kebanggaan Malaysia yang menarik perhatian banyak turis.

Read the rest of this entry

Kisah PHP Di Boardwalk

Standard

Sore itu aku menunggumu.

Dan seharusnya aku merasa bosan. Tapi sajian pemandangan di hadapanku menjadi hidangan yang lezat untuk mataku.

image

Sajian pemandangan Boardwalk

Bayangkan saja. Aku sedang menginjakkan kakiku di atas jembatan yang meliuk eksotis di antara Harbour Front dan Sentosa Island. Seperti berdiri di atas laut. Ditemani semilir angin hangat dan langit yang mulai sendu melepas kepergian sang surya.

image

Welcome to Sentosa Boardwalk

Aku sedang berada di Sentosa Boardwalk. Sebuah jembatan sepanjang 600 m yang berdiri kokoh di atas laut. Menjadi akses pilihan bagi pengunjung yang ingin menyebrang ke Sentosa Island dengan berjalan kaki.

Aku suka sekali suasana di sini. Duduk di undakan kayu sambil meluruskan kaki. Melepas lelah pada hamparan laut biru tak berombak. Dan menyaksikan beberapa kapal ferry berlalu lalang di sana.

Aah… bila menunggu jadi seindah ini, mungkin menunggu akan kehilangan predikat sebagai aktivitas paling membosankan. Tapi tentu akan lebih indah bila kau muncul menemani.

Hmm… Aku melirik pada jam tanganku. Sudah pukul 7 petang. Langit pun sudah semakin muram. Semuram hatiku yang cemas karena kau tak kunjung muncul.

Ayolaah… aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Lirihku dalam hati.

image

Menunggu Mr. PHP

Read the rest of this entry

Nyasar Ke China

Standard
Pagoda dan para prajuritnya

Pagoda dan para prajuritnya

Sebuah bangunan pagoda yang didominasi warna merah menjulang tinggi di hadapanku. Di depannya, ada undakan tangga yang cukup tinggi yang dijaga patung-patung prajurit. Pemandangan ini mirip seperti yang sering aku lihat di film-film silat.

Olala, ini di Cina?

Asli keren banget, ya! Padahal tadi aku landing di bandara Changi Singapura. Setelah drop koper di hostel, Aku langsung berkelana naik MRT kesana-kemari, menempuh jarak yang cukup jauh. Dan tibalah aku di sini.

Ni hao ma. Wo zai zhongguo xianzai

(Hello, aku sedang di Cina sekarang)

Read the rest of this entry

Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.
Read the rest of this entry

Lambaian Tangan Di KM 26

Standard

Tak…tak…tak..

Seperti ada tabuhan drum yang menemani perjalananku dan temanku ke bandara Soetta pagi itu. Terdengar jelas dari sisi pintu kiri. Sebenarnya aku merasa aneh. Namun ku pikir body taksi yang kutumpangi mungkin sudah agak renta sehingga menimbulkan suara seperti itu.

Bismillah saja, toh sebentar lagi sampai bandara. Gumanku dalam hati.

Namun tak lama, Pak Supir malah menghentikan taksinya di KM 26. Lalu ia keluar dan mengecek ke semua sisi ban. Sambil garuk-garuk kepala, wajahnya terlihat bingung.

“Mba, saya ganti ban dulu ya”, ucapnya pada kami.

Gawat! Ban taksi kempes!

Aku pun langsung melirik jam. Pukul 5.45.

Oalaa,,, pesawatku boarding jam 6.30. Hatiku mulai cemas. Terbayang bila nanti harus berlari ke sana- kemari mencari konter check-in. Belum lagi harus mengantri di imigrasi. Bisa-bisa nggak sempat!

Aku dan temanku pun keluar taksi dan mengecek kondisi ban.

Parah! Hancur banget. Sementara aku lihat di bagasi tak ada ban serep. Mau diganti pakai apa?

Pak Supir masih upaya mengecek-ngecek ban. Walau rasanya aku menangkap raut tak paham di wajahnya. Lalu ia menelpon pool taksi meminta bantuan armada baru. Tapi siapa yang mau menjemput kami di tol Bandara KM 26? Sudah sebentar lagi sampai Soetta. Tapi kalau jalan tentu masih jauh. Aku coba telpon pun mereka bilang armada mereka penuh.

Jejak di KM 26

Jejak di KM 26

15 menit sudah kami terdampar di sana. Ditemani semilir udara dingin dihiasi langit mendung yang siap menangis. Seperti hatiku juga yang bisa menangis jika tak kunjung beranjak dari sana. Sementara mobil-mobil berlalu cepat begitu saja. Tak satupun menoleh, meminggirkan diri untuk menolong kami.

Aaah… Pertolongan itu harus dijemput!

Aku melempar lirikan pada temanku. Seolah memberi kode untuk melakukan hal “gila” yang belum pernah kami lakukan selama ini. Cuma menonton di film-film. Cuma terlintas dalam batas khayalan.

Read the rest of this entry

Melangkah, Memotret, Menulis

Standard

“Ga bosen ke sana lagi?”

“Jalan-jalan mulu. Ga sayang sama uangnya?”

“Kenapa nggak jalan-jalan di Indo aja, sih?”

Beberapa pertanyaan terlontar dari rekan-rekanku saat tahu aku lagi lagi pergi ke Singapura.

Ya, ini adalah kunjunganku yang ketiga sejak kunjungan terakhir tahun 2012 lalu. Boleh dibilang kunjungan terakhir itu cuma mengulangi itinerary-ku pada kunjungan yang pertama. Karena teman-temanku baru pertama kali ke sana, otomatis destinasi wisata yang dituju pun yang khas dan jadi menu wajib wisatawan baru (baca: Merlion Park, Universal Studio, Mustafa Centre, Bugis Street).

Namun untuk kali ini, aku coret daftar destinasi tersebut dari list-ku. Nah, inilah yang membuatku tak merasa bosan atau sayang uang karena lagi-lagi pergi ke sana. Kali ini, aku ingin mengenal negara yang tak lebih luas dari Jakarta itu dengan lebih dekat.

Get close to Singapore; tema perjalanan yang kupilih untuk kali ini. Bukan sekedar berkunjung lalu foto-foto atau belanja. Aku ingin lebih akrab dengan tiap sudut di negara tersebut. Berbincang dengan orang-orang yang kutemui. Melihat Singapura dari sudut pandang yang berbeda.Melangkah ke berbagai tempat, memotret fenomena yang aku temui, lalu menulisnya. So, aku tak hanya pulang membawa oleh-oleh foto ataupun cenderamata. Tapi juga banyak sketsa cerita yang bisa aku bagi pada banyak orang.

Mengapa harus ke Singapore? Mengapa tak di Indonesia saja?

Read the rest of this entry