Tag Archives: Bandara

Mimpi 80 Dollar (Part 2)

Standard

Hampir pukul 10 waktu setempat.  Aku merogoh sisa uang Singapore dollar di saku. Cuma cukup buat beli teh. Ditambah uang dari saku Cun. Ya, cukuplah buat 2 gelas atau 1 porsi nasi lemak. Perut kami langsung rusuh. Mereka mengajukan protes.

Udah, gesek aja. Bayar bulan depan. Bisik-bisik hedonis menyeruak di kepala.

Tidak! Tidak! Aku dan Cun sudah sepakat tidak akan menggesek kartu terbitan bank di dompet. Bukannya sok hemat apalagi pelit sama diri sendiri. Cuma nggak mau lebih menodai rencana awal kami untuk travel hemat. Sambil miris mikirin utang di kartu kredit yang cukup menguras gaji bulan depan.

Satnight @ Changi Airport

Satnight @ Changi Airport

Tenang aja, belly. Malam ini in shaa Allah bisa makan enak dan kenyang. Aku tersenyum tenang sambil mengibas-ngibas tiket eTRS (electronicTourist Refund Scheme) di tangan.

Jadi, di Singapura itu, kalau turis belanja barang untuk kebutuhan pribadi (bukan untuk dijual lagi), di toko-toko tertentu minimal $100, bisa dapat pengembalian pajak. Tax free. So, biaya pajak yang termasuk dalam harga barang bisa dikembalikan. Yeaay… Berkah belanja #eeh :p.

Aku dan Cun pun mencari konter eTRS untuk mengambil pengembalian pajak. Lumayan dapat 11 SGD. Cukuplah untuk makan enak malam ini. Lokasinya tak jauh dari loket imigrasi. Berhubung sudah malam, jadi antrian sudah sepi. Kami melenggang cepat ke hadapan petugas dan menunjukkan tiket eTRS tersebut.

Hand-carry goods?” Tanya petugas berwajah India.

“Yes, Sir.”

Oh, please refund in the departure lounge.

“Ya??? Aku denger sih apa kata petugas itu. Cuma shock dan nggak mau percaya aja.

Setelah petugas itu menjelaskan lebih lanjut, aku dan Cun lunglai. Ternyata kalau barangnya nggak masuk bagasi alias hand-carry, ditukernya nanti di dalam departure lounge. Itu, tuh, tempat yang sebelumnya aku idamkan untuk menghabiskan malam ini. Yang fasilitasnya bikin gemes. Yang baru bisa dimasukin abis check-in. (-.-“)

Read the rest of this entry

Advertisements

Awas Salah “Jepret”

Standard
Gagal jepret

Gagal jepret

Jangan bayangkan pemandangan Gardens by The Bay seperti foto di atas. Gelap, suram, buram.

Taman yang belum lama dibuka di Singapura ini sebenarnya terlihat sangat cantik dan eksotis di malam hari. Ada belasan supertree alias pohon raksasa berhias lampu yang berjejer kokoh namun manis. Desain taman begitu apik ditambah dengan penerangan yang sengaja dibuat redup. Taman ini seolah ingin menampilkan kesan pretty in mystery.

Sayangnya yang pegang kameraku nggak cukup pandai untuk mengabadikan keindahannya. Salah setting, sih. Jadilah hasil jepretannya nggak jelas begini.

Ternyata view yang cantik bisa jadi “rusak” gara-gara salah setting kamera. Gimana dengan kehidupan?

Read the rest of this entry

Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.
Read the rest of this entry