Tag Archives: Catper

9 Destinasi Patah Hati

Standard

Berdasarkan hasil observasi ke banyak orang, patah hati itu cenderung menguatkan jiwa sporty pada diri seseorang. Bawaannya pengen lariiii terus (dari kenyataan). Pertanyaannya mau lari kemana?

Gunung? Laut? Luar kota? Luar negeri? Luar angkasa?

Tempat-tempat berikut ini mungkin bisa jadi referensi untuk “olahraga” hati. Baca sampai habis ya, soalnya ada hadiahnya ;).

Destinasi Patah Hati

Destinasi Patah Hati

Read the rest of this entry

Cenat Cenut Rindu

Standard

Bohonglah kalau tak ada alasan spesial yang menarikku kembali ke sini. Tentu ada yang aku rindukan. Sebuah rindu yang membuatku semakin tak sabar untuk segera bangkit dari kursi pesawat, tepat ketika pesawatku sudah mendarat di Changi Airport, Singapore. Asli pengennya loncat aja melewati barisan penumpang di depanku yang sedang antri untuk keluar pesawat.

Mungkin aneh jika aku merindukannya. Kami tak bisa dibilang akrab. Pertemuan pertama kami, 3 tahun lalu, begitu singkat. Meski tak kupungkiri ada quality time dalam pertemuan singkat itu. Begitu berkesan dalam ingatan ketika ia mampu membuatku tertawa dalam lelah. Tapi hanya begitu saja. Setelah itu, kami tak saling bertegur sapa. Terpisah dalam jarak ratusan mil. Perpisahan yang seolah membuat pertemuan kami setahun kemudian terasa asing. Kami seperti tak saling kenal. Hanya saling pandang dalam jarak. Lalu aku pun berlalu meninggalkannya.

Dan dua tahun pun berlalu. Ketika aku memutuskan untuk kembali lagi ke Singapura, saat itulah aku kembali teringat padanya. Kenangan indah di pertemuan pertama terputar kembali dalam ingatan. Ternyata aku merindukannya.

Ya, aku sungguh rindu padanya. Sampai-sampai dalam itinerary-ku, list pertama yang akan kulakukan setelah tiba di Singapura adalah menemuinya.

Begitu “sah” menginjakkan kaki di Singapura, aku pun langsung mengajak temanku pergi ke suatu tempat untuk mencarinya. Aku sendiri tak yakin apakah dia masih di sana. Bisa saja dia sudah pindah ke lain hati. Tapi tak ada salahnya aku cek dulu.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah kakiku pun terhenti. Tak bergerak ketika aku melihat sosoknya tepat di hadapanku. Masih di tempat itu, masih dengan penampilan yang sama. Tapi dia sedang bersama yang lain.
Read the rest of this entry

Lambaian Tangan Di KM 26

Standard

Tak…tak…tak..

Seperti ada tabuhan drum yang menemani perjalananku dan temanku ke bandara Soetta pagi itu. Terdengar jelas dari sisi pintu kiri. Sebenarnya aku merasa aneh. Namun ku pikir body taksi yang kutumpangi mungkin sudah agak renta sehingga menimbulkan suara seperti itu.

Bismillah saja, toh sebentar lagi sampai bandara. Gumanku dalam hati.

Namun tak lama, Pak Supir malah menghentikan taksinya di KM 26. Lalu ia keluar dan mengecek ke semua sisi ban. Sambil garuk-garuk kepala, wajahnya terlihat bingung.

“Mba, saya ganti ban dulu ya”, ucapnya pada kami.

Gawat! Ban taksi kempes!

Aku pun langsung melirik jam. Pukul 5.45.

Oalaa,,, pesawatku boarding jam 6.30. Hatiku mulai cemas. Terbayang bila nanti harus berlari ke sana- kemari mencari konter check-in. Belum lagi harus mengantri di imigrasi. Bisa-bisa nggak sempat!

Aku dan temanku pun keluar taksi dan mengecek kondisi ban.

Parah! Hancur banget. Sementara aku lihat di bagasi tak ada ban serep. Mau diganti pakai apa?

Pak Supir masih upaya mengecek-ngecek ban. Walau rasanya aku menangkap raut tak paham di wajahnya. Lalu ia menelpon pool taksi meminta bantuan armada baru. Tapi siapa yang mau menjemput kami di tol Bandara KM 26? Sudah sebentar lagi sampai Soetta. Tapi kalau jalan tentu masih jauh. Aku coba telpon pun mereka bilang armada mereka penuh.

Jejak di KM 26

Jejak di KM 26

15 menit sudah kami terdampar di sana. Ditemani semilir udara dingin dihiasi langit mendung yang siap menangis. Seperti hatiku juga yang bisa menangis jika tak kunjung beranjak dari sana. Sementara mobil-mobil berlalu cepat begitu saja. Tak satupun menoleh, meminggirkan diri untuk menolong kami.

Aaah… Pertolongan itu harus dijemput!

Aku melempar lirikan pada temanku. Seolah memberi kode untuk melakukan hal “gila” yang belum pernah kami lakukan selama ini. Cuma menonton di film-film. Cuma terlintas dalam batas khayalan.

Read the rest of this entry